Indra Dwi Prasetyo

Seni Memaafkan Diri Sendiri

seni memaafkan diri sendiri

Barangkali, ada sebagian dari kita yang saat ini merasa sedih, bersalah, gagal atau jatuh. Entah apapun masalahnya, keadaan jatuh pasti pernah kita alami sebagai manusia.

Ada banyak hal yang mungkin membuat kita merasa “down”, misalnya, kegagalan dalam meraih sebuah tujuan, ditolak atas sebuah keinginan, atau ditinggal atas sebuah hubungan. Well, sekali lagi saya sampaikan, kalian tidak salah.

Tulisan kali ini saya persembahkan untuk kalian yang merasa “gagal”, lalu kecewa pada diri sendiri. Atau, pada kasus yang lebih ekstrem, marah pada diri sendiri dan keadaan.

Ekspresi kecewa dan marah dengan diri sendiri adalah alamiah–bentuk ekspresif spontan kita dalam merespon sebuah kejadian. Namun, ada yang jauh lebih essenssial dari marah pada diri sendiri: memaafkan diri sendiri.

Sayangnya, tidak semua orang paham bagaimana caranya memaafkan diri mereka sendiri. Orang bijak pernah berkata bahwa “marah tidak memerlukan pengajaran, namun untuk memaafkan kita perlu belajar”.

Berikut adalah beberapa tips agar kita bisa memaafkan diri kita sendiri.

1. Kejujuran VS Ketakutan

Dalam sebuah bukunya, Best Self, Mike Bayer (2019) menulis bahwa banyak dari kita yang tidak berani untuk menerima keadaan bukan karena kita tidak mampu, namun karena kita memberi energi lebih pada ketakutan dari pada kejujuran.

Misal, dalam proses gagal, persepsi akan rasa takut, malu, marah mungkin akan menyelimuti. Namun, jangan sampai kita tidak jujur pada diri kita sendiri. Jujurlah bahwa kita gagal.

Tidak ada yang salah dari kegagalan, semua orang pernah mengalaminya. Yang membuat itu berbeda adalah bagaimana kita mau lebih jujur kepada diri kita sendiri untuk menerima kegagalan tersebut.

Bukan sebaliknya, menjadi takut dan malu dalam menerima kegagalan tersebut.

Jika ada yang berkata “jujur yang paling sulit adalah jujur pada diri sendiri”, saya pikir benar. Namun, dampak yang ditimbulkan dari tidak berprilaku jujur justru pada diri sendiri akan membuat kita berada pada kondisi yang jauh lebih sulit

“Jujur yang paling sulit adalah jujur pada diri sendiri”

2. Hidup Untuk hari Ini, Yuk!

Banyak dari kita yang mengira bahwa kunci kebahagiaan dan sukses adalah saat kita mampu mencapai apa yang kita rencanakan. Lantas, bagaimana kalau rencana itu tidak berhasil kita capai dengan baik?

Babineaux & Krumboltz (2013) menulis buku berjudul “Fail Fast, Fail Often”. Disini, mereka berkata bahwa banyak dari kita yang ingin hidup dimasa depan, namun tidak mampu hidup untuk hari ini. Maksudnya, bagaimana?

Begini, saat kita merencakanan  sesuatu untuk masa depan, maka kita sebenarnya berharap bahwa rencana itu akan membawa kebahagiaan dan keberhasilan ketika dicapai. Faktanya, masa depan itu belum terjadi.

Alih-alih menjadikan masa depan sebagai pusat kebahagiaan, Babineaux & Krumboltz mengajak kita untuk berpikir: mengapa tidak bahagia dan merasa sukses dari sekarang?

Itulah mengapa, dalam buku itu, kesuksesan tidak diperoleh dari rencana, melainkan dari memaksimalkan peluang-peluang yang ada saat ini, hari ini.

Jadi, jika kita merasa gagal atas rencana kita di masa depan, jangan buru-buru untuk menghakimi diri sendiri dahulu. Jangan-jangan semata karena kita kurang jeli untuk melihat kesempatan yang ada di depan mata kita hari ini.

“Kebahagiaan tidak diperoleh dari rencana, ia didapatkan dengan memaksimalkan peluang-peluang yang ada saat ini, hari ini”

3. Buat Kecil-Kecil, Gimana?

Dalam banyak kegagalan, seringkali kita temui banyak terjadi pada rencana-rencana besar. Misalnya, kita gagal ketika ingin mendaftar beasiswa. Padahal, kita sudah berlatih dan mempersiapkan banyak hal.

Tapi, izinkan saya perkecil skalanya. Sebuah rencana besar pasti tersusun atas rangkaian rencana-rencana kecil yang meliputinya.

Pada kasus di atas tadi, misalnya, untuk mendapatkan sebuah beasiswa, kita harus lolos sertifikasi bahasa, mempertahankan IPK, dan serangkaian hal administratif lainnya. Namun, pernah gak berpikir kalau hal-hal kecil tersebut juga adalah keberhasilan?

Banyak dari kita yang bermimpi besar, dan berharap memiliki kaki yang juga besar untuk melangkah. Padahal, mengutip La Tzu, “Perjalanan ribuan miles, diawali dari satu langkah kecil”. Terus, apa relevansinya dengan kegagalan?

Begini, ketika kita memiliki mimpi yang ingin kita capai, pastikan kita mem-breakdown rencana tersebut kedalam rencana-rencana kecil. Rencana-rencana kecil ini yang pada akhirnya mengantarkan kita mencapai rencana besar kita.

Nah, jika pada akhirnya kita gagal meraih rencana besar kita ketika diujung perjalanan, kita masih dapat besyukur karena sudah banyak rencana-rencana kecil yang sudah berhasil kita eksekusi dengan baik.

Dalam kasus beasiswa di atas misalnya, walau pada akhirnya kita gagal memerolehnya, namun setidaknya kita berhasil meningkatkan kemampuan bahasa kita, berhasil mendapatkan surat rekomendasi dari para tokoh panutan kita, dsb. Bukankah itu juga keberhasilan?

“Perjalanan ribuan miles, diawali dari satu langkah kecil”


Nah, memang, menulis tulisan ini jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan perasaan gagal yang mungkin teman-teman alami. Tapi, sekali lagi saya sampaikan, bukankah kegagalan adalah proses yang pasti dialami semua manusia?

Kalian tidak sendiri, ada banyak orang gagal lainnya yang mampu bangkit dari kegagalan, memaafkan masa lalunya, dan memulai masa depannya dengan jauh lebih cemerlang.

Terakhir, saya ingin mengajak teman-teman semuanya untuk merayakan kegagalan. Serius, saya tidak bercanda. Sudah banyak energi yang kita habiskan selama ini untuk meratapi kegagalan, dan saat ini saatnya kita untuk merayakan kegagalan.

Ceritakan kegagalan dengan perasaan lucu, bangga, dan bahagia. Jadikan setiap kegagalan sebagai alat inspirasi kita kepada orang lainnya.

Bukankah orang tua kita pernah berkata, bahwa “pengalaman adalah guru yang terbaik. Dan sebaik-baiknya guru, adalah pengalaman gagal milik orang lain?”

Share now
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Related articles
“Mereka yang membaca buku hanya mengetahui satu, sedangkan mereka yang tak membaca mengetahui banyak”
“Di antara matinya kalbu adalah tidak bersedih atas ketaatan yang terlewat dan tidak menyesal

5 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Download Ebook Drawing Our Path 101

Kirimkan ebook langsung ke email saya