Indra Dwi Prasetyo

Seberapa bernilai sebuah gagasan?

Mewakili Indonesia ke Korea Selatan

“Jangan kebanyakan bicara, action dong!”

“Pintar omong doang, gak ada tindakannya!”

 

Sebagian dari kita mungkin pernah mengalami situasi dimana kita, ataupun mungkin rekanan kita, diperlakukan demikian ketika mengutarakan argumentasinya melalui perkataan. Beberapa mungkin marah, sebagian lainnya mungkin tersinggung dalam diam. Lalu, pertanyaannya, salahkah kita memiliki gagasan kemudian berujar?

Bagi masyarakat di negara berkembang, apresiasi sebuah gagasan dalam bentuk verbal mungkin tidak sebegitu bernilai jika dibandingkan dengan gagasan yang berbentuk fisik ataupun kebendaan. Hal ini agaknya umum, jika kita melihat fenomena masyarakat saat ini dimana zat yang berbentuk fisik lebih memiliki harga daripada benda nir-wujud. Kita lihat saja dipasaran, bagaimana orang berlomba-lomba untuk memiliki jam tangan baru, telepon genggam teranyar, atau mobil dengan desain termutakhir. Pada konstruksi berfikir sederhana dan jangka pendek, memberi nilai hanya pada kebendaan fisik tidak akan memiliki dampak yang signifikan, namun bagaimanapun, hal ini akan berdampak jika terjadi dalam kurun waktu yang lama secara terus menerus.

Steve Jobs muda masih sibuk dibengkel kediamannya ketika pada kemudian hari ia memikirkan bagaimana membuat sebuah piranti berbentuk komputer yang pada kemudian hari kita sebut dengan produk Apple. Dengan sedikit narasi berbeda, kita tahu bagaimana Kolonel Sanders yang sudah sepuh kemudian berimajinasi untuk membuat sebuah panganan cepat saji yang produknya dapat kita konsumsi hingga saat ini bernama KFC. Apa karakteristik mereka berdua? Mereka penggagas sekaligus pengeksekusi apa yang berkecamuk didalam otak mereka. Secara teknis, mereka mengelaborasi apa yang mereka fikirkan menjadi sebuah benda yang dapat disaksikan orang banyak. Keren bukan?

Sebagian dari kita akan takjub dengan apa yang telah mereka lakukan; penjualannya, proses produksinya, dan semua yang berkaitan dengan kebendaannya. Namun, sedikit dari kita yang memuji bagaimana sistematika mereka berfikir hingga pada akhirnya fikirannya terwujud. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena fikiran dan gagasan tidak dapat diindera, ia hanya dapat dicerna melalui fikiran dan perasaan. Ia berkecamuk didalam alam fikiran manusia, hingga terejawantah secara sederhana melalui tindak tutur, tulisan atau pada artefak kebendaan lainnya. Kendati demikian, semua dimulai dengan sebuah gagasan didalam kepala.

Proses apresiasi pada pada gagasan agaknya emang perlu kita lakukan. Bukannya mengapa, bagaimana lalu cara kita mengapresiasi ide Marhaenis ala Bung Karno yang tidak dapat kita temukan di pasar tekhnologi? Bagaimana kita dapat membeli buah fikir Sosialisme ala Karl Marx atau persamaan hak atas etnis ala Martin Luther King? Bisakah hal tersebut dinominalkan dengan lembaran dollar? Hal tersebut mungkin tidak dapat kita lakukan karena mereka adalah sebuah gagasan. Lebih lanjut, gagasan tersebut tidak dapat ditemukan secara lahiriah dan tidak dapat dibeli dengan nominal berapapun, namun dapat kita rasakan dan nikmati baik secara falsafah maupun batiniah.

Pada akhirnya, karena keterbatasan diri kita untuk mengindera gagasan non-fisik, kita jarang mengapresiasi sebuah hasil fikir yang tak berwujud pada diri seseorang. Kita seringkali abai bahwa gagasan yang mereka sampaikan barangkali terkonstruksi atas ratusan atau ribuan buku, melalui jatuh bangun pengalaman dan terinspirasi dari kepala-kepala manusia lainnya yang mereka temui. Pada tataran praktis, mungkin hal ini tidak bergitu berdampak pada kehidupan kita. Namun, mungkin ada saatnya didalam hidup kita dimana kita merasakan sebuah kekeringan fikiran dan kekosongan hati, pada saat itu mungkin sebuah gagasan berbaut motivasi lebih berharga daripada rumah mewah beserta seisinya

Share now
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Related articles
Persis, semenjak kemunculan sosial media baik berupa instant messenger ataupun micro-blogging sejenis Twitter dan
Dream Theater adalah sebuah band asal Amerika yang didirikan pada tahun 1985 dengan nama

2 Responses

  1. It’s always amazing to know that some words could change ones whole life. A simple advice for instance. And in this writing I found courage and advice both in one written body. A courage to eradicate fears to set ideas free into another words or into action itself. Awesome writing, Bang.

  2. indeed. One word could change the world, particularly on how the people within think and react, more particularly by a high-influencing person. Underestimating one’s ideas is sometimes occur, but when we realise on how they build theirs through deep thinking and contemplation, we should frankly say: how dare we do that?

Leave a Reply

Your email address will not be published.