Indra Dwi Prasetyo

Punya Apa VS Berbuat Apa: Menang Siapa?

Dalam beberapa kajian dan diskusi, acapkali dikatakan bahwa Indonesia akan mengalami bonus demografi pada beberapa tahun medatang; menjelang 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Keadaan dimana masyarakat usia produktif lebih banyak daripada mereka yang berusia non-produktif. Namun, jika kita mau lebih peka melihat sekeliling kita, sebenarnya proses menuju kearah sana sudah dapat kita rasakan saat ini.

Start-up adalah salah satunya. Hampir disetiap lini, perkembangan start-up didominasi oleh anak-anak muda. Baik itu start-up dibidang sosial, bisnis, teknologi maupun pendidikan. Start-up tersebut, tidak hanya bermanfaat bagi si empunya, namun pada kasus tertentu, membantu masyarakat luas hingga pemerintah.

Tulisan ini sebenarnya tidak untuk membahas bagaimana start-up tersebut berkembang hingga saat ini, terlebih membicarakan hal-hal yang bersifat teknis lainnya. Namun, tulisan ini ingin mengajak kita semua untuk melihat bagaimana perubahan pola pikir anak-anak muda Indonesia, dari yang dulu bersifat “punya apa” menjadi “berbuat apa”. Perubahan paradigma pikir ini pada akhirnya memberi dampak kepada anak muda untuk kemudian berpikir secara lebih reflektif: “sebenarnya, kita ini maunya apa?”

Beberapa dekade yang lalu, lazim kita temui bahwa banyak anak-anak muda yang merasa bangga dengan apa yang dimiliki oleh orang tuanya. Harta benda,  jabatan orang tua seringkali dijadikan salah satu tolak ukur sosial anak muda dalam pergaulannya. Semakin tinggi kemampuan finansial dan sosial orang tua, maka semakin tinggi pula status sosial si anak dalam pergaulannya.

Misalkan, anak-anak dengan status sosial yang tinggi akan hanya bergaul dengan mereka dengan status sosial yang tinggi. Tapi, apakah hari ini pedoman ini masih relevan? Mungkin iya, tapi mungkin juga tidak. Tapi mari kita lihat, bahwa status sosial anak muda di lapangan, sedikit banyak bergeser, dari yang bersifat kepunyaan menjadi kebermanfaatan.

Sesekali saya bertemu dengan teman-teman muda, apa yang dibahas? “Sudah berbuat apa buat daerahmu?”, atau “sedang ngembangin apa?”. Dengan fenomena start-up dikalangan anak muda saat ini, tidak heran bahwa status sosial melalui kepunyaan, kurang bergengsi daripada mereka yang berkecimpung demi kebermanfaatan. Sebuah inisiatif yang dilakukan oleh anak muda untuk membantu nelayan lebih prestige daripada anak muda yang memamerkan HP barunya di media sosial.

Fenomena ini, tanpa disadari akan menimbulkan semangat kompetisi positif bagi kalangan muda. Berkompetisi untuk menebar kebermanfaatan bagi sekelilingnya. Kompetisi semacam ini tidak hanya akan menumbuhkan semangat kreativisme dikalangan muda, namun juga meningkatkan pelbagai sektor, seperti ekonomi, industri maupun pariwisata misalnya. Dari Ruangguru kita belajar, bahwa upaya Isman Usman dan teman-temannya tidak hanya membantu mereka yang memerlukan akses pendidikan, namun juga meningkatkan pendapatan guru-guru yang mengajar. Dari Gojek kita juga belajar bahwa mereka tidak hanya menjalankan bisnis semata, namun membantu pekonomian Tukang Ojek yang berimbas pada perekonomian daerah melalui pajak.

Perubahan paradigma anak muda ini sedikit banyak memberikan nafas baru bagi pergerakan dan arah pikir anak muda. Bahwa apapun yang mereka lalukan dan pelajari, memiliki ujung yang sama: bermanfaat bagi sekitarnya. Bahwa keberhasilan tidak hanya diukur melalui seberapa banyak harta atau jabatan yang mereka miliki, namun seberapa besar dampak mereka dalam sosial.

Terakhir, di akhir tulisan ini saya ingin mengajak teman-teman semua untuk berefleksi: sudah besarkah dampak kita bagi sosial sekitar kita? Sudah bermanfaat buat sepenuh-penuhnya masyarakatkah ilmu yang kita enyam di bangku kuliah selama ini? Jika belum, mugkin kutipan ini akan sedikit mengingatkan kita:

“What you do has far greater impact than what you say.” Stephen Covey

 

 

 

Share now
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Related articles
Beberapa waktu yang lalu, saya berdiskusi bersama dengan teman satu organisasi sewaktu kuliah dulu.
Yang terdekat— merupakan sebuah metafora akan sang kematian sebagai sebuah proses insani sebuah makhluk.

Leave a Reply

Your email address will not be published.