Indra Dwi Prasetyo

Mematikan Nada Cinta

Mematikan nada cinta

Menyoal tentang cinta, ia tak ubahnya sebuah kata benda biasa. Tak terlalu bermakna jika tak dipadu padankan dengan kata-kata yang berbeda lainnya. Dengan imbuhan -suci, ia bisa bermakna positif, dengan akhiran -buta, ia bisa saja diartikulasikan negatif.

Tak jarang, ia hanya digunakan setelah kata ganti orang: aku, kamu, dia. Statusnya sebagai pelengkap, melengkapi nafsu aksara sang pembicara: “aku cinta kamu!” Namun, tak jarang pula ia muncul pertama sebelum kata-kata lainnya hadir: “cintailah aku”, misalnya. Posisi ini menentukan seberapa aktif kata cinta itu diperdendangkan dalam alunan dan ritme percakapan.

Barangkali, jamak diantara kita menggunakan “aksesoris” tambahan untuk menyempurnakan kata cinta tersebut. Seringkali kata “cantik”, “tampan”, “kaya”, “baik” tergadai untuk, seolah-olah, menjadikan cinta itu valid, rigid, konkrit. Padahal, dalam seni kehidupan lainnya, kita tak perlu alasan untuk bernafas; tak perlu berpikir untuk berkedip; pula tak perlu risau untuk sekadar tersenyum bahagia. Mereka bisa muncul tiba-tiba, tanpa kita perintah, tanpa perlu logika rumit.

Maka, memunculkan alasan-alasan sebagai norma atas sebuah kebenaran cinta itu sendiri patut dipertanyakan. Karena kadangkala, cinta memang tak memerlukan norma dan aturan. Kita bisa mencintai siapa saja, kapan saja, dalam bentuk dan ekspresi bagaimana saja. Ia tak perlu memiliki, tak perlu bisa disentuh dan digenggam; ia sendiri sang penyentuh dan penggenggam.

Maka, mencintai bisa saja berada dititik nadir: tanpa lagi bisa merasa-rasa, dan beranalogi akan ihwal-ihwal. Ia tak perlu banyak bicara pula logika. Jika Tuhan dapat mencintai umatnya tanpa melihat kanan-kiri, maka mungkin, itulah sejatinya cinta itu sendiri. Ia tak perlu tampak dalam roman-roman verbal, ia bisa dihilangkan. Karena menampakannya bisa jadi merendahkan drajat keagungannya.

Karena kalimat “maukah menikah denganku” lebih paripurna nan tinggi daripada sekadar ucapan “aku cinta padamu”. Persis seperti peluh keringat kedua orang tua kita sewaktu kerja—sebuah bukti nyata bahwa cinta dapat dimatikan dalam nada kata, namun ia patut diejawantah kedalam tindakan nyata.

Share now
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Related articles
“Hanya orang bodoh yang meminjamkan buku kepada orang. Tapi, hanya orang gila yang mengembalikan
Sebagai makhluk sosial, seringkali kita mendengar berkataan dari teman-teman kita yang mengatakan: “janganlah berpura-pura

2 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published.