Indra Dwi Prasetyo

Melihat Madilog (Sekali Lagi)

Mengapa madilog tan malaka harus dibaca

Saya berpikir, “bagaimana bisa seseorang yang menyerupai petani beranalisa begitu tajam?’ Sesudah kami berbincang lebih dari 2 jam, Subardjo berkata: “Tuan Nishijima, inilah Tan Malaka yang benar!”

Nishijima Shigetada dalam The Japanese Experience in Indonesia: Selected Memoirs of 1942-1945


Beberapa waktu yang lalu, ada yang bertanya melalui instastory Instagram saya kira-kira seperti ini,

“Bang Indra, kira-kira buku apa yang yang wajib dibaca generasi millenials?”

Karena keterbatasan waktu, saya tidak menjawabnya menggunakan tulisan melainkan dengan memosting buku Meterialisme Dialektika dan Logika (Madilog) Tan Malaka. Setelah itu, responpun akhirnya bermunculan

“Kenapa Madilog harus dibaca, Kak?”

Nah, pada tulisan ini akan saya gambarkan mengapa Madilog wajib dibaca, khususnya oleh generasi  Millenials. Just check it!

  1. Mengapa Madilog?

Madilog yang ditulis Tan Malaka pada tahun 1942-1943 di dalam sebuah rumah di pinggir kota jakarta–Desa Rawajati–pada dasarnya menggambarkan kegelisahan seorang Tan Malaka akan nasib bangsanya. Yang terlintas didalam pikirannya kira-kira “mengapa Indonesia bisa terjajah begitu lama?”

Untuk menjawab persoalan tersebut, Tan Malaka harus berpikir panjang dan dalam hingga muncullah buku Madilog ini. Menurutnya, keterjajahan Indonesia dalam waktu yang lama dikarenkan sistem feodal yang selama ini bercokol di Indonesia.

Sistem perbudakan dan struktur kelas sosial ini menurutnya sudah dipraktikan di Nusantara jauh sebelum penjajah hadir. Persoalan tanah, misalnya, hanya dikuasai oleh segelintir orang saja. Struktur sosial yang ada pada saat itu menyulitkan bagi masyarakat biasa untuk melakukan “upaya naik kelas” dalam struktur sosial.

Feodalisme yang diperparah dengan kedatangan penjajah selama lebih dari tiga abad lantas membuat Indonesia makin tertinggal. Maka, untuk menjawab persoalan ini, Tan sampai pada langkah pokok masalah selanjutnya: “Bagaimana caranya agar bangsa ini lepas dari penjajahan?” Maka, buku Madilog kemudian hadir.

Jika di era teknologi seperti ini sebuah terobosan (disrupsi) bisa berbentuk start-up, maka pada zaman itu Tan Malaka sudah melakukan disrupsi dengan caranya. Menurutnya, cara untuk menghilangkan feodalisme adalah dengan merubah cara berpikir masyarakat. Dalam upayanya itu, konsep materialisme, dialektika dan logika ia suguhkan.

Tan Malaka Muda
Tan Malaka Muda

    A.Materialisme

Secara singkat, materialisme bisa diartikan tentang bagaimana melihat sesuatu berdasarkan meteri (bentuk). Lawan dari materialisme sendiri adalah takhayul, spiritual,  metafisika dan lain sebagainya. Materialisme meniscayakan tentang validitas suatu hal menggunakan indra (bukan Indra saya ya, hehe) sebagai alat ukurnya.

Hal ini dianggap penting bagi Tan, karena takhayul berbahaya jika digunakan sebagai alat penguasa. Misalnya, bisa saja penguasa menyewa dukun untuk mengatakan bahwa tanah dilokasi X tidak boleh didiami, nanti penunggunya marah. Narasi semacam ini yang ingin dipatahkan oleh Tan bahwa konsep takhayul itu harus dimusnahkan.

Lebih ekstrim, Tan kemudian mengambil contoh Ramalan Jayabaya sebagai pembandingnya. Ia membandingkan apa yang diramalkan oleh Jayabaya dengan apa yang sebenarnya terjadi.

“Semua nujumnya sampai tahun 1942 gagal, meleset sama sekali. Tenungan Pak Belalang belaka. Dari jempol mana Jayabaya isap lagi kejadian tahun 1947 dan 2027?” (Halaman 142)

“Seorang geolog yang cerdaspun atau ahli politik yang pintar, tak berani menentukan “tempo” yang pasti itu, buat sesuatu kejadian, tiap-tiap keadaan itu berseluk beluk, kena mengena dan berubah dari hari ke minggu, dari minggu ke tahun.” (Halaman 142)

Namun yang menarik, pandangan Tan akan materialisme tidak mutlak seperti halnya Marx yang mengkritisi Tuhan secara total. Tan mencoba untuk mengawinkan antara Marxis yang dia pahami dengan Islam, agama yang ia anut sedari kecil.

“Jadi menurut Madilog Yang Maha Kuasa itulah bisa lebih kuasa dari undang alam. Selama Alam ada dan selama Alam Raya itu ada, selama itulah pula undangnya Alam Raya itu berlaku…Berhubungan dengan ini maka Yang Maha Kuasa jiwa terpisah dari jasmani, surga atau neraka yang diluar Alam Raya ini tiadalah dikenal oleh ilmu bukti, semuanya ini adalah diluar daerahnya Madilog” (Halaman 393)

Inilah menariknya Tan Malaka, ia mencoba untuk memisahkan antara empirisme dengan spiritualisme–walaupun oleh penganut materialisme lainnya hal ini sulit dilakukan. Tan mencoba adil untuk tidak mengatakan bahwa sesuatu yang tidak bisa diindra adalah tidak ada, ia justru mengatakan bahwa itu “diluar daerahnya Madilog.”

Karl Marx
Karl Marx

Hal serupa juga dilakukan Hawking ketika berteori mengenai teori pembentukan bumi melalui Ledakan Besar (Big Bang). Ketika tiba pada satu pertanyaan, “apa yang terjadi sebelum Big Bang?” Bukannya menjawab “semesta tidak ada sebelum itu”, secara retoris ia menjawab bahwa hal tersebut tidak bisa digambarkan karena waktu dan ruang belum tercipta pada saat itu.

    B. Dialektika

Jika pada tahapan Materialisme, Tan memberi gambaran tentang bagaimana pengetahuan itu dibangun berdasarkan dasar empirisme (bukti-bukti yang dapat diindra), pada formula Dialektika, Tan lebih menitikberatkan tentang bagaimana cara berpikir.

Melalui pengujian berpikir, Tan memberikan cara bagaimana kebenaran dapat diperoleh. Untuk itu, ia menggunakan pendekatan dialegtika: thesis-antithesis-sinthesis. Karena dialektika adalah upaya dialogis, maka tidak ada kebenaran absolut dalam prosesnya. Ia akan sangat bergantung pada penafsiran akan sesuatu.

Georg Wilhelm Friedrich Hegel
Georg Wilhelm Friedrich Hegel

Misalnya, Tan menggunakan filsafat Hegel dan Marx sebagai pembanding. Hegel berpandangan jika pikiran itu digerakkan oleh ide (absolut idea), sedangkan Marx beranggapan bahwa pikiran dan otak kita hanya mencerminkan apa yang ada di depan kita.

Saya kasih contoh sederhana menggunakan eskrim (hehe). Ketika panas terik, kita terpikir untuk membeli eskrim. Nah, bagi Hegel, kodrat eskrim yang nikmat dan sejuk itu sudah ada dari sananya (Being), namun karena tidak bisa dilihat, maka dibuatlah eskrim oleh mamang eskrim (becoming),  yang akan habis (nothing) ketika dimakan.

Sebaliknya, jika Hegel menganggap bahwa konsep akan eskrim tadi emang sudah ada dari sananya secara kodrati, Marx justru sebaliknya. Penemuan-penemuan salju, lalu sirup, lalu es batu yang kemudian membentuk eskrim. Secara singkat, dalam pandangan Hegel “kemajuan ide, pikiran itu mengemudikan kemajuan benda” dan menurut Marx, “Kemajuan benda menentukan kemajuan pikiran (Halaman 120).

Tan menyuguhkan pergulatan dialektika untuk menunjukkan bahwa cara manusia memandang sesuatu itu dinamis. Sekalipun demikian, dinamika tersebut tidak boleh lari dari formula-formula berpikir, misalnya melalui pengujian thesis-antithesis-sinthesis.

 C. Logika

Jika pada proses berpikir dialektika Tan mengajarkan tentang fleksibilitas sebuah realitas dilihat dari kacamata seseorang, pada proses logika lebih menitikberatkan pada bagaimana sebuah kebenaran bisa diuji.

Masih ingat tentang pelajaran premis di sekolah, kan? Misalnya

Premis 1: Semua manusia makan

Premis 2: Indra adalah manusia

Kesimpulan: Indra makan.

Dalam kacamata Tan, proses berpikir materalistis (realistis), dialektis (dinamis), harus juga diikuti oleh penggunaan logika yang tepat. Jika tidak, maka sebuah kebenaran tidak dapat didapatkan.

Namun, bagaimana Tan menggunakan logika ini untuk menjelaskan domain mistis seperti spiritual? Dalam Madilog, ia memberi bab khusus mengenai Logika Mistik. Disana, ia mencoba untuk menerangkan bagaimana logika mistik dan rasionalitas pada akhirnya tidak dapat disatukan.

Mempersatukan keduanya justru akan bertentangan dengan prinsip logika rasional itu sendiri. Oleh karena itu, keduanya memiliki spektrum tersendiri, dengan cara kerjanya sendiri-sendiri.

  Whats Next?

Madilog yang ditulis pada zamannya (1943) memang merupakan sebuah buku yang menembus zaman. Hal itu dikarenakan formula yang digunakan oleh Tan untuk keluar dari keterjajahan masih relevan hingga hari ini.

Tan memang tidak membuat sendiri konsep-konsep tersebut, namun Tan mencoba untuk mengekstraksi narasi yang ada untuk keperluan Indonesia pada saat itu.

Apakah Madilog masih relevan dengan konteks hari ini? Saya pikir iya

Masih banyak orang diluar sana yang percaya akan hoax daripada menggunakan akal sehatnya. Masih banyak orang yang menggunakan ilmu klenik untuk kesuksesan, dan masih banyak orang yang “berlogika” menggunakan ototnya daripada menggunakan akalnya.

Madilog memberikan kita pelajaran (sekali lagi) tentang pentingnya memaksimalkan apa yang kita punya (indra, akal dan perasaan) untuk dapat melihat sekeliling kita secara lebih bijaksana.

Ya, secara lebih bijaksana.

Sumber:

Madilog, Terbitan Widjaya, Jakarta, tahun 1951.

Share now
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Related articles
Persis, semenjak kemunculan sosial media baik berupa instant messenger ataupun micro-blogging sejenis Twitter dan
Al-Hikam bukanlah sembarang kitab. Kitab ini banyak digunakan dalam kajian-kajian pesantren di Tanah Air. Penggunaan

2 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published.