Indra Dwi Prasetyo

Digital Minimalism: Hidup ‘Sederhana’ di Media Sosial

Digital Minimalism: Hidup Sederhana di Media Sosial

Tulisan ini agaknya masih bekaitan dengan tulisan saya minggu lalu yang berjudul “Menunda-nunda: Kenapa tidak”. Buat yang belum membacanya, silahkan dibaca disini. 

Suatu hari, seorang teman saya bercerita bahwa ia mampu menghabiskan waktunya sekitar 5-8 jam satu hari di depan layar telepon genggamnya. Dan menariknya, dia hanya menghabiskan waktunya untuk satu keperluan: bermedia sosial!

Kita semua mungkin berpikir: “bagaimana mungkin seseorang mampu menghabiskan waktunya berjam-jam di media sosial?

dan menariknya adalah, ada banyak orang-orang seperti itu!

Minggu ini, saya membaca buku yang menarik tulisan Cal Newport yang berjudul “Digital Minimalism: Choosing a Focused Life in a Noisy World”Saya tidak setuju pada beberapa poinnya, terutama tentang teknologi dan manusia yang terpisah (karena menurut saya bisa saling melengkapi).

Tapi, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari buku tersebut. Setidaknya, ada tiga hal yang ingin saya tekankan tentang bagaimana caranya kita memiliki kuasa penuh atas teknologi, terutama media sosial yang banyak menghabiskan waktu kita.


“Rata-rata pengguna Facebook menghabiskan 350 menit per minggu hanya untuk mengecek status dan update mereka”


1. Tidak Ada yang Murah, Semuanya itu Mahal!

Buat yang pernah membaca buku Henry David Thoreu, Walden pasti tahu bahwa apa yang kita keluarkan untuk sebuah kebutuhan sehari-hari, sebenarnya jauh lebih banyak dari yang kita perkirakan.

Misalnya, untuk berpergian ke kampus, kamu memiliki dua pilihan: menggunakan sepeda atau motor. Sekilas, menggunakan motor terlihat sederhana, tapi ada banyak “pengeluaran” lain yang jarang kita bayangkan.

Misalnya, stress karena macet, potensi kehilangan helm dan motor itu sendiri, perawatan dan bensin, dan masih banyak yang lainnya. Harga dari semua side-effect tersebut bisa jadi jauh lebih mahal dari pada harga motor itu sendiri.

Media sosial juga demikian. Tidak ada yang sekadar “ah, cuma cek notifikasi, kok”, atau “gak apalah, cuma live setengah jam doang aja.” Yang sebenarnya terjadi adalah, pikiran yang terdsitraksi karena aktifitas mengecek notifikasi secara kontinu, dan waktu yang terbuang untuk persiapan live strory yang mungkin justru lebih dari setengah jam itu sendiri.

Jadi, prinsip pertama lebih menekankan bahwa tidak ada kata “hanya” di media sosial. Faktanya yang terjadi adalah, “lebih dari hanya”. Ia akan menguras waktu, energi, konsentrasi, hubungan sosial secara nyata, dan lain-lain.

2. Momentum Titik Jenuh

Prinsip kedua berkaitan dengan hukum ekonomi lainnya, The Law of Diminishing Returns. Hukum ini secara singkat berkata bahwa kita tidak bisa mendapatkan peningkatan secara konsisten jika kita terus menambah hal-hal yang sama.

Misalnya, kita memiliki 100 meter lahan yang bersemak dan ingin kita bersihkan. Kita meminta 1 orang untuk membersihkan, tentu dengan waktu yang sedikit lama. Lalu kita menambah menjadi 5 orang, pasti hasil yang dihasilkan akan semakin cepat. Namun, jika kita terus menambah menjadi 10, 20 atau 50 orang, justru yang terjadi sebaliknya. Itulah yang dinamakan titik jenuh.

Media sosial juga begitu. Jika kita hanya memerlukan apps untuk update foto, mungkin 1 media sosial cukup. Tapi, jika kita terus menginstall banyak aplikasi dengan fitur-fitur yang hanpir serupa, itu akan membuang-buang waktu itu. Persis dengan kasus di atas.

Itulah kenapa, kita harus tau apa yang kita perlukan dari media sosial itu sendiri. Dengan demikian, kita bisa mengestimasi berapa waktu dan tenaga yang harus kita keluarkan untuk mencapai tujuan tersebut. Jangan ikut-ikutan lalu menginstall semua aplikasi yang sedang trend, believe me, its just a trap!

3. Menjadi Konvensional Kadang Penting

Jika kita ke kampung-kampung atau desa-desa, kita sudah banyak menemukan masyarakat yang sudah memiliki telepon genggam. Tapi, saya bisa pastikan bahwa jarang, atau bahkan tidak ada dari mereka yang menggunakan segala jenis aplikasi yang sedang trend saat ini.

Prinsip dari hidup mereka bisa kita tiru, bahwa media sosial adalah sebagai alat, bukan Sebuah tujuan itu sendiri. Dengan demikian, mereka tidak kehilangan senyum ceria diwajah mereka ketika mereka bercengkrama dengan tetangga mereka atau saat mereka bekerja sacara bersama-sama.

Ingat, tujuan media sosial itu untuk memudahkan pekerjaan atau melakukan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan di dunia nyata. Tapi, ketika hal-hal tersebut bisa dilakukan di dunia nyata, apakah media sosial masih benar-benar efektif?

Benang Merah

Tentu, saya sedang tidak mengampanyekan #stopmediasosial atau #uninstallaplikasi dll. Karena saya yakin, media sosial atau sebuah aplikasi di telepon genggam memiliki manfaat yang jauh lebih besar daripada mudharatnya.

Namun, saya ada beberapa pertanyaan yang harus kita jawab untuk memastikan apakah kita benar-benar memerlukan sebuah aplikasi di telepon genggam kita

1. Apakah aplikasi ini sejalan dan mendukung nilai yang selama ini aku perjuangkan dalam hidupku? 

Jika iya, lanjut ke pertanyaan selanjutnya. Jika jawabannya tidak, lebih baik kita uninstall aplikasi tersebut.

2. Apakah aplikasi ini adalah satu-satunya yang saya butuhkan untuk mendukung nilai yang saya perjuangkan?

Jika iya, lanjut ke pertanyaan selanjutnya, Jika tidak, maka pilihkan aplikasi yang paling mudah dan sederhana cara kerjanya agar tidak banyak waktu kita yang terbuang.

jika sudah sampai pada pertanyaan kedua dan kita merasa aplikasi ini mendukung nilai-nilai kita, pertanyaan terakhir adalah:

3. Bagaimana caranya agar aplikasi ini dapat kita maksimal dan memberi benefit lebih buat kita?

Nah, inilah pertanyaan terakhir yang harus kita jawab. Untuk menjawab pertanyaan ini, cobalah lihat disekitar kita orang-orang produktif yang aktif dengan telepon genggam dan aplikasi yang digunakannya.

Mereka adalah orang-orang yang sudah sampai pada soal nomor 3 dan mereka mampu memberikan jawabannya. Sedangkan, banyak dari kita yang justru gagal untuk menjawab bahkan di soal pertama.

Coba renungkan, lalu buat jawabanmu sendiri!

Share now
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Related articles
Dalam beberapa tahun kebelakang, terdapat beberapa makna kata yang berubah konotasinya dari arti aslinya.
Setelah tidak mampu menahan gejolak pengaruh media sosial perihal film tentang “Sang Ratu”, Bohemian

Leave a Reply

Your email address will not be published.