Indra Dwi Prasetyo

Cogito Ergo Sum

cogito ergo sum

Kompleksitas tuntutan umat manusia dari hari-kehari semakin mejadi. Manusia dihadapkan pada persaingan dunia yang menuntut manusia untuk menjadi makhluk yang up-to-date, atau yang lebih dikenal dengan ‘kekinian’. Tren ini setidaknya mengubah prilaku manusia menjadi lebih kompetitif dan selektif. Adanya proses untuk menjadi lebih baik dan lebih tinggi menurut hemat saya terjadi karena adanya tuntutan yang seperti saya sebutkan diatas sebelumnya. Budaya hedonisme, materialisme, dan individualisme setidaknya menjadi kembing hitam yang terus dipergunjingkan ketika membahas isu-isu tentang kompleksitas dan kompetisi sesama manusia, setidaknya oleh saya sendiri ketika tulisan ini dibuat.

“Berikan yang terbaik kepada dunia, maka yang terbaik akan kembali padamu” tulis Robert K. Cooper di bukunya. Saya baca berulang kali kalimatnya, dan saya sangat setuju dengan ungkapan ini. Ungkapan yang sarat akan makna ini menurut saya menjadikan manusia sebagai individu yang ‘sehat’, menjadikan manusia sebagai insan yang memiliki nilai yang diperhitungkan. Saya membayangkan dunia dipenuhi orang yang berdedikasi seperti ini disemua sektor, pastilah manusia hidup dengan penuh kemakmuran dan harapan yang tinggi. Namun, tidak juga semua berlaku demikian!

Bermula dari banyaknya kasus ijazah palsu yang beredar dimasyarakat umum, kemudian saya berfikir serendah itukah ilmu pada saat ini? Ilmu yang dulu para ulama dan cendikiawan bersusah payah untuk ‘dikuliti’ sekarang hanya tinggalah aksesoris berlabel Sarjana, Master atau Doktor? Dengan uang yang seberapa, seseorang lalu sudah merasa layak menyandang gelar tertentu dan dianggap mampu untuk menjawab tantangan zaman, padahal tidak! Perguruan Tinggi, dimana tempat yang putih, tulus, dan murni mengajarkan ilmu kepada muridnya berubah menjadi lokasi transaksi bisnis. Kalaulah yang dijual ilmu, saya tak mengapa, tapi kalau yang dijual hanya aksesorisnya sebatas gelar, munafik bukan? Perguruan Tinggi, dimana tempat yang putih, tulus dan murni untuk mengajarkan ilmu berubah menjadi tempat para pencari kerja untuk berkumpul. Bukankah itu mereduksi hakikat ilmu itu sendiri? Maka tidak heran jika tujuan belajar dewasa ini semata-mata dianggap untuk uang, pekerjaan, status dan sejenisnya, bukan lagi menuntut ilmu lalu menjadi mulia karenanya dan bermanfaat bagi sesamanya.

Eksisme, sebuah pola perilaku manusia yang kini kian menjamur menjadikan manusia berwatak keakuan lebih tinggi. Pola eksisme -demi menjawab tuntutan zaman katanya- membuat manusia berfikir apapun demi eksistensi dirinya. Kasus ijazah palsu adalah bentuk eksisme manusia yang buruk. Demi sebuah pengakuan baik dalam strata pendidikan dan sosial, seseorang lalu mereduksi kaidah ilmu menjadi hanya pepesan semu bermatrai 6000, lalu sah, aku seorang yang berilmu!

Berabad silam, Al-Quran telah menerangkan dengan sangat apik tentang urgensi ilmu seperti surat Al-Ankabut ayat 43: “…dan perumpamaan-perumpamaan ini kami buat untuk manusia, dan tiada yang mamahaminya kecuali orang yang berilmu”. Proses pemerolehan ilmu dan cara fikir disampaikan juga dengan baik oleh filsuf Descartes lewat kalimatnya, “cogito ergo sum”, aku berfikir maka aku ada. Kalimat ini adalah bentuk eksisme yang positif dimana orang diakui lewat pemikirannya, lewat ilmunya. Bukan sebaliknya, pengakuan hadir lebih dahulu, ilmu dan pemikiran belakangan, padahal orang tersebut tidak memiliki ilmu yang cukup dibidangnya. Kalau ini terjadi, maka benarlah Riwayat dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad pernah ditanya kapan terjadinya kiamat, lalu Nabi Muhammad Saw bersabda, “Apabila amanat telah diabaikan, maka tunggulah kiamat”. Lalu bertanya lagi orang tersebut, “Bagaimana mengabaikan amanat itu?” Rasulullah Saw menjawab, “Apabila urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat.” (H.R Bukhari nomor 59).

Maka ada baiknya dibulan penuh berkah ini, sebagai umat yang beragama dan berilmu, kita berkontemplasi kedalam, merenungi diri kita sendiri. Sudah benarkah niat kita menuntut ilmu sebagai jalan takwa menuju kebijaksanaan filosofis, menuju jalan Tuhan dan bermanfaat pada sesama, atau karena eksistensi diri yang berlebih yang bermotif lainnya? Dan pada dunia yang semakin carut marut ini, ada baiknya kita memerhatikan diri kita dan aspek yang lebih dalam dari kehidupan. Manusia adalah imago diei kata umat Kristiani yang berarti lambang kesempurnaan. Di dalam umat Muslim sendiri dikenal “Wa fii anfusikum afala tubhsiruun”dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? (Adz-Dzariyat ayat 21). Wallahu a’lam bish-shawabi.

Share now
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Related articles
  “Payah, masa gitu aja gak bisa sih!” “Soal gampang kayak gini aja kamu
Sebagai makhluk sosial, seringkali kita mendengar berkataan dari teman-teman kita yang mengatakan: “janganlah berpura-pura

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published.