Category: Thoughts

Menafsir Kembali Bahasa Seksisme Kita

Beberapa waktu yang lalu, saya melakukan sebuah survei kecil di Instagram untuk mengetahui bagaimana para pengguna Instagram meletakkan gender pada beberapa padanan frasa seperti ‘Kepala Rumah Tangga’ dan ‘Pekerja Rumah Tangga’. Sesuai prediksi saya, lebih dari 90% menjawab Kepala Rumah Tangga adalah gender laki-laki dan Pekerja Rumah Tangga adalah wanita. Pertanyaan saya, seberapa relevan isu […]
Read More
Share:

3 Alasan Mengapa “Personal Branding” di Media Sosial itu Penting

2400 tahun yang lalu, Socrates pernah berkata:“Cara untuk memperoleh reputasi yang baik adalah dengan berusaha menjadi apa yang anda inginkan di depan orang banyak” Dua minggu yang lalu, saya sempat menulis melalui status Facebook, berisikan kira-kira seperti ini: “bahwa mereka yang mencitrakan pekerjaan mereka di media sosial, akan selangkah lebih maju dengan mereka yang tidak melakukannya”. Saya […]
Read More
Share:

Menafsir Bohemian Rhapsody

Setelah tidak mampu menahan gejolak pengaruh media sosial perihal film tentang “Sang Ratu”, Bohemian Rhapsody, akhirnya hari ini saya sempatkan untuk menonton. Setelah mencari tahu bioskop dengan harga termurah disini, akhirnya air mata saya tumpah beberapa kali ketika menyaksikan. Pertama kali mendengar Bohemian mungkin sekitar kelas 2 SMP, dan saya menjadi salah satu penggemar Queen […]
Read More
Share:

Ulama dan politik moralitas

Dalam pertarungan Pilpres kali ini, bisa jadi merupakan kontestasi politik yang paling “panas” dalam satu dekade terakhir. Pertarungan tidak hanya berkisar pada para Politisi semata, namun juga melibatkan Ulama-Ulama Indonesia. Pada periode sebelum-sebelumnya pun, sebenarnya peranan Ulama tidak bisa kita pisahkan dari politik kita. Dahulu kita pernah memiliki Partai Nahdlatul Ulama serta Masyumi. Tidak jauh […]
Read More
Share:

Pendidikan Tidak Menjadikan Kita Siapa-Siapa

“Bu, saya mau jadi Presiden, Bu” Dulu, banyak diantara kita yang sedari SD bercita-cita menjadi seorang Dokter, Polisi, Tentara atau Presiden! Hal tersebut merupakan cita-cita yang lumrah pada masanya. Pada zaman itu, kita belum mengenal—atau mungkin tidak begitu akrab—dengan pekerjaan seperti content writter, entrepreneur apalagi digital technopreneur. Itu adalah pekerjaan yang umum yang baru ada beberapa […]
Read More
Share:

Melihat Cak Nur Hari Ini

“Islam Yes, Partai Islam No” Tadi malam, tepat 13 tahun mendiang Cak Nur meninggalkan bangsa Indonesia. Ada banyak sekali sumbangsih Cak Nur dalam ruang pikir dan diskursus mengenai Keindonesiaan, Islam, modernisasi serta demokrasi Dari sekian banyak gagasan mengenai Cak Nur, gagasan tentang “Islam Yes, Partai Islam No” mungkin menjadi salah satu yang kontroversial. Ada banyak […]
Read More
Share:

Filsafat Pendidikan dalam sudut pandang Ibn-Khaldun

Dalam dunia Filsafat atau sosiologi, nama Ibn Khaldun mungkin sudah seringkali kita dengar. Namun, bagaimana dengan pemikiran Ibn Khaldun dalam dunia pendidikan? Apakah masih bisa kita implementasikan di abad ini?   Simak pemaparannya di video dibawah ini. Semoga bermanfaat 🙂   *Mohon maaf jika ada kesalahan baik secara penyampaian maupun ilmu pengetahuan; semoga masih ada […]
Read More
Share:

Perlukah Membaca Buku?

Dalam beberapa kesempatan, beberapa sering kita ditampilkan mengenai tingkat membaca anak Indonesia yang bak jauh panggang dari api; cukup rendah. Dari survei yang dilakukan oleh *Most Littered Nation In the World 2016 yang lalu, tingkat baca penduduk Indonesia terbilang rendah. 0,01 persen buku per tahun! Angka ini jauh dari, misalnya, Jepang di angka 15-18 persen buku pertahun, […]
Read More
Share:

Apa yang salah dengan pencitraan?

Dalam beberapa tahun kebelakang, terdapat beberapa makna kata yang berubah konotasinya dari arti aslinya. Hal yang awalnya bermakna netral, tiba-tiba harus berubah menjadi negatif bagi beberapa kalangan. Salah satu kata tersebut adalah: Pencitraan. Kata pencitraan dalam konteks hari ini mungkin berawal pada saat Presiden Jokowi dituduh hanya berpura-pura dalam melaksanakan tugasnya sebagai presiden, penuh intrik […]
Read More
Share:

Berdiri di bahu raksasa

Salah satu adagium yang paling populer dari seorang Isaac Newton adalah ketika ia menulis: “Jika aku sudah melihat jauh kedepan, itu karena aku berdiri di bahunya raksasa.” Tulisan itu dituangkannya dalam suratnya kepada Robert Hooke pada tahun 1679, seorang ilmuwan dan juga seorang filsuf, untuk menunjukan rasa hormatnya kepada Robert atas pemikiran-pemikirannya. Tidak hanya kepada Robert, […]
Read More
Share: