Indra Dwi Prasetyo

Belajar Menjadi Bodoh

belajar menjadi bodoh

Kesalahan orang-orang pandai adalah menganggap orang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai”-Pramoedya Ananta Toer

Di dalam ruang-ruang sosial, teramat sering kita mengalami diferensisasi secara horizontal hingga statifikasi vertikal untuk mengidentifikasi manusia satu dan lainnya. Dari sekian banyak metode dan bentuk klasifikasi, tak jarang IQ (Intelligence Quotient) masih dianggap sebagai salah satu tolak ukur yang objektif, reliable serta universal. Atas dasar itu, banyak sudah kita saksikan ajang kontestasi sarat prestasi serta ruang-ruang kelas dan diskusi yang diharapkan dapat menghasilkan manusia-manusia ber-IQ tinggi. Harapannya semua satu, menjadi pintar. Namun, fenomena menjadi pintar ini sendiri kadangkala kontradiktif dengan nilai dan norma yang seharusnya ada di dalam diri manusia. Tak jarang kita temui bulir-bulir kesombongan, tunas-tunas egoisme, ataupun biji-biji eksklusivisme lahir dari kepala-kepala manusia dengan tensi intelegensi yang tinggi. Dari sekian banyak kasus korupsi dan skandal di negeri ini, adakah dilakukan oleh mereka yang tidak pintar–mengenyam pendidikan tinggi? Maka, kalau saja belajar dan kemudian menjadi pintar tidak memberi jaminan orang untuk berbuat baik, bagaimana kalau kita belajar untuk menjadi bodoh?

Barangkali sebagian dari pembaca akan sedikit mengerutkan dahi ketika membaca judul tulisan ini, dimana lazimnya manusia belajar untuk menjadi pintar, bukan sebaliknya untuk menjadi bodoh. Namun, apa yang salah dengan menjadi bodoh? Narasi ini berawal dari banyaknya dari kita yang belajar hanya semata-mata untuk memeroleh gelar dan ilmu pengetahuan dalam jangka waktu tertentu lalu menganggap dirinya sudah pintar jika sudah berada di titik tertentu. Misal, 3 tahun bagi SMA, 4 tahun bagi S1 dan seterusnya. Mereka yang telah mengenyam pendidikan dengan jangka waktu tersebut merasa sudah purna tugasnya untuk belajar karena merasa diatas angin; sudah pintar. Untuk lebih menyederhanakannya, mari kita ambil kasus sepiring nasi. Bagi mereka yang lapar, sepiring nasi beserta lauk-pauknya merupakan sebuah anugerah, dan sebaliknya, bagi mereka yang sudah merasa kenyang maka makanan semewah apapun tidak akan menarik perhatiannya sama sekali. Namun, apakah kenyang ini bertahan lama? Tentu tidak. Akan ada fase berikutnya dimana kita memerlukan sebuah asupan makanan mungkin dengan menu yang berbeda atau diwaktu yang berbeda, sehingga kata sifat “kenyang” itu sendiri bukanlah sebuah kata dengan tanda titik, melainkan sebuah proses keberlanjutan. Begitupula halnya dengan belajar. Bagi mereka yang sudah merasa “kenyang” dan merasa sudah cukup dengan capaian mereka sehingga menyudahi proses belajar tersebut, maka sejatinya ialah manusia yang paling “lapar” dalam sudut pandang yang berbeda.

Di dalam manifestasi pikirnya, Madilog (1951), Tan Malaka pernah berujar bahwa hakikat pendidikan itu setidaknya untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan dan memperhalus perasaan. Hal ini tidak mungkin dicapai bagi mereka yang sudah merasa pintar dan paripurna, karena tidak akan ada lagi proses pengasahan kecerdasan, tidak akan ada lagi kemauan untuk terus belajar serta hati yang keras dan selalu ingin menang sendiri. Maka, sejatinya, menjadi bodoh itu sendiri bukanlah sebuah tujuan, namun sebuah proses tanpa akhir. Tahapan pertama dari penikmat kebodohan adalah selalu merasa kurangnya ilmu dan wawasan yang ia miliki. Di dalam bukunya, Pensees (1966), Blaise Pascal mengatakan bahwa setidaknya ada dua tipe manusia: para pembenar yang selalu merasa berdosa dan para pendosa yang selalu merasa benar. Mana yang lebih baik? Hemat saya adalah premis yang pertama. Hal ini pula terjadi di dalam dialektika belajar bahwa terdapat dua diferensiasi manusia: mereka yang pintar namun merasa bodoh, dan mereka yang bodoh namun merasa selalu pintar. Perasaan selalu kurang dalam ilmu dan wawasan akan menjadikan mereka–penikmat kebodohan–untuk selalu mencari tau tentang apa yang ia tidak ketahui. Bisa melalui pikiran orang lain, melalui tulisan para penulis, bahkan menurut Ibnu Khaldun di dalam Mukadimmah (1377) proses belajar dapat dilakukan dengan bantuan alam serta melihat peristiwa yang terjadi sepanjang zaman. Dengan apapun, melalui apapun, mereka yang merasa drinya bodoh akan terus berusaha mencari tahu karena merasa kurangnya ilmu yang dimiliki.

Kedua, disamping perasaan akan kurangnya ilmu dalam proses belajar, proses menjadi bodoh akan menjadikan kita manusia yang berhati-hati. Berhati-hati disini dapat diartikulasikan baik melalui perkataan, perbuatan bahkan pikiran. Ada sebuah kalimat yang masyhur dikalangan ulama berbunyi: “pendapatku benar, tapi bisa jadi salah. Dan pendapat selainku salah, tapi bisa jadi benar.” Dari pernyataan ini, kita dapat belajar bahwa proses mengeluarkan pendapat dikalangan orang berilmu selalu diliputi perasaan rendah hati (tawadhu’). Hal ini agaknya jarang kita temukan saat ini di sekitar kita dimana pedebatan setiap hari kita saksikan di media sosial dan pertikaian antar manusia kerap menjadi tontonan gratis. Apa dasarnya? Mereka menganggap diri mereka yang paling benar, sedangkan selain mereka adalah salah. Bagi mereka yang merasa dirinya bodoh, klaim mutlak atas kebenaran seperti itu adalah sesuatu yang sia-sia untuk dilakukan. Karena bagi mereka yang merasa dirinya bodoh, tidak ada ilmu manusia melainkan hanya setetes di samudera luas (Q.S. Al-Kahfi: 109) dan bersombong daripadanya merupakan sebuah tindakan yang tidak ada manfaatnya. Abdullah Ibn Umar r.a pernah berkata, “ilmu ada tiga, Al-Quran, As-Sunnah dan yang tidak kuketahui.” Asy-Sya’bi pula berujar dengan redaksi yang berbeda: “Saya tidak tahu adalah setengah ilmu” dan ditanggapi oleh al-Ghazali bahwa: “Barangsiapa dia (tidak menjawab) karena Allah perihal apa yang tidak dia ketahui maka pahala baginya tidak lebih sedikit daripada orang yang menjawabnya. Sebab mengetahui ketidaktahuan itu lebih berati bagi jiwa.” Maka, orang yang merasa dirinya bodoh akan senantiasa berhati-hati dalam bertindak dan berperilaku, bahkan berucap, dan ketika pada satu titik ketika ia memang tidak tahu mengenai sebuah ilmu, maka ia akan menjawab tegas: saya tidak tahu.

Terakhir, perasaan menjadi bodoh akan menjadikan kita sebaga manusia yang tidak cepat puas dalam belajar. Bahwa ilmu itu teramat luas dan tidak mampu disegmentasikan kedalam jangakauan waktu beberapa tahun saja. Maka, salah kiranya jika ada yang berkata bahwa mereka yang sudah menyelesaikan studinya di bangku sekolah atau universitas dianggap sudah selesai dalam belajar, justru yang terjadi adalah sebaliknya. Mereka yang tidak cepat puas dalam belajar akan selalu merasa ada kekurangan yang harus ia pelajari, seakan meminum air lautan, semakin diminum semakin kita merasa haus. Begitu pula dengan mempelajari sebuah ilmu, semakin kita belajar semakin kita merasakan ketidaktahuan dan berproses untuk menjawab setiap keping ketidaktahuan tersebut. Umar Bin Khattab r.a pernah mengkasifikasikan ilmu menjadi tiga tingkatan:” Jika seseorang memasuki tahapan pertama, ia akan sombong. Jika ia memasuki tahapan kedua ia akan tawadhu’, dan jika ia memasuki tahapan ketiga ia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya.” Maka, sudah semestinya sebagai orang haus akan ilmu, cepat berpuas diri kemudian mengklaim kebenaran secara mutlak merupakan kaidah terlarang yang akan menghentikan proses belajar itu sendiri dari seorang penuntut ilmu.

Untuk menutup tulisan ini, pemaknaan kata bodoh di dalam tulisan ini tidak dapat secara mutlak diartikulasikan seperti apa yang disangkakan sebagian orang–negatif, hitam, hina,dll–, namun lebih kepada sudut pandang dan cara pikir. Tentu saja kita belajar dan mencari ilmu untuk terbebas dari kebodohan yang hakiki, namun sejatinya dalam proses menuntut ilmu itu sendiri, kita memerlukan sifat bodoh tersebut agar terpenuhi sedikit demi sedikit kekurangtahuan kita mengenai sesuatu. Proses menjadi bodoh juga menuntut kita untuk selalu rendah diri, berhati-hati dalam berpikir dan berperilaku serta menjadi manusia yang tekun dalam belajar. Saya pribadi menganggap diri saya bodoh, dan saya tidak pernah menganggap studi yang saya tempuh ini sebagai jalan saya untuk menjadi pintar, bukan. Saya belajar karena saya adalah seorang manusia dan belajar itu sendiri saya anggap sebagai sebuah kebutuhan primer, persis layaknya makanan. Ketika saya berhenti mengonsumsi makanan, maka saya akan mati. Begitupula ketika saya makan terlalu banyak tanpa dikeluarkan, juga akan menyebabkan kematian pada diri saya. Maka dari itu, perlu adanya distribusi ide dan ilmu dari kita para penuntut ilmu agar ilmu yang kita peroleh dapat tersebar kepada orang lain yang juga membutuhkan. Namun tetap, hal itu bersandar dalam kaidah-kaidah keilmuan, bahwa apa yang saya pikirkan, bisa jadi adalah sebuah kesalahan, begitupula dengan tulisan ini. Wallahu a’lam bish-shawabi

Share now
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Related articles
Akhir April 2023 yang lalu, Gmail saya kemasukan pesan masuk dari seseorang yang tidak
Dalam sumir senja yang malu -malu menjelang sore, saya mencari tempat berteduh untuk sesaat.

2 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published.