Indra Dwi Prasetyo

Tik Tok dan Kenikmatan Kita

Tik Tok

Beberapa waktu yang lalu, jagat tanah air–wabilkhusus jagat dunia maya– dihebohkan dengan fenomena Bowo, seorang selebritis dari apliaksi bernama Tik-Tok. Pasalnya, sang artis mengadakan meet and greet kepada para fansnya yang relatif tergolong masih remaja. Mungkin kisaran umur SD hingga SMP.

Tidak lama berselang, pemerintah melalui Keminfo melakukan pemblokiran terhadap aplikasi tersebut. Tidak tahu apakah masih berhubungan atau tidak dengan fenomena Bowo, namun pertanyaannya, mengapa Tik-Tok harus diblokir?

“Pornografi, pelecehan agama, banyak sekali pelanggarannya,” kira-kira begitulah ucap Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo. Maka, dengan dalih tersebut, aplikasi Tik-Tok pun resmi diblokir. Namun, ada yang menarik dari pemblokiran Tik-Tok ini.  Karena jika bersandar pada pornografi dan pelecehan agama, bukankah di aplikasi mainstream seperti Facebook dan Instagram juga ada?

Tidak sulit bagi kita untuk menemukan muatan bernada negatif yang mungkin lebih parah dari Tik-Tok di aplikasi semacam Facebook atau Instagram. Jika pemerintah ingin konsisten dalam penerapannya, maka seharusnya aplikasi yang saya sebutkan di atas juga bisa terkena arus pembikiran layaknya Tik-Tok. Namun, nyatanya tidak seperti itu.

Hemat saya, karena aplikasi Tik-Tok secara mayoritas digunakan oleh anak-anak. Hal ini menjadi salah satu kajian penting ketika Petinggi Tik-Tok bertemu dengan jajaran Kementrian Kominfo beberapa waktu lalu (baca disini).  Dengan masifnya penggunaan Tik-Tok oleh anak-anak, maka dianggap aplikasi ini kontraproduktif dengan usia dan perkembangan anak-anak.

Jika itu alasannya, sekali lagi, apakah pemblokiran merupakan pilihan yang tepat?

Terlepas dari pemblokiran yang dilakukan pemerintah, saya ingin menitikberatkan pada peranan masyarakat dalam fenomena ini. Dalam alogoritma sebuah aplikasi berbasis apps, semakin banyak diunduh dan digunakan, maka ratting-nya akan semakin baik. Lalu, apa hubungannya dengan Tik-Tok?

Disadari atau tidak, fenomena Tik-Tok tidak bisa lepas dari peranan serta sosial masyarakat; baik mereka yang mengunduh, mereka yang membagikan videonya di media sosial, mereka yang me-remake videonya, bahkan mereka yang secara sengaja menikmati video-video Tik-Tok tersebut, walaupun menggunakan aplikasi ain, seperti Facebook maupun Instagram.

Partisipasi aktif masyarakat dalam mem-viral-kan penggunaan aplikasi ini, secara sadar atau tidak, semakin membuat penggunaan aplikasi ini masif. Bowo hanyalah sebuah fenomena gunung es. Bahwa ternyata masih ada ribuan atau mungkin jutaan pengguna di luar sana yang turut serta menggunakan, membagikan atau sekadar menonton video-videro hasil produksi Tik-Tok.

Sejatinya, perkembangan teknologi tidak dapat kita bendung. Pemblokiran mungkin hanya berimbas sesaat, pada saat itu juga. Namun tidak akan memberikan dampak untuk waktu yang lebih lama. Aplikasi sejenis Tik-Tok sangat mungkin saja dibuat kembali kedepannya. Apa susahnya?

Jack Ma pernah berkata di sebuah wawancara, bahwa teknologi akan selalu lebih pintar dari manusia, namun manusia yang akan selalu menang. Kenapa? Karena manusia memiliki hati, sedangkan teknologi tidak.

Maka, fenomena Tik-Tok ini tidak dapat kita lepaskan dari tanggungjawab kita sebagai sosial masyarakat. Tanggungjawab kita untuk berhenti menggunakan aplikasi yang sekiranya kontraproduktif dengan kegiatan kita sebagai individu. Masih terlalu banyak pekerjaan positif lainnya yang bisa kita kerjakan.

Hal ini dapat dimulai dengan tidak turut membagikan, menonton atau membuat video Tik-Tok sebagai ajang lucu-lucuan. Trust me, it is not funny, at all. Sampai tiba saatnya, aplikasi tersebut sepi peminat, dan menurun secara rating dengan sendirinya.

Atau jangan-jangan, dibalik kritik pedas kita terhadap aplikasi Tik-Tok, ada kita yang secara diam-diam menikmatinya?

Share now
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Related articles
Belom selesai kegaduhan demi kegaduhan di Republik ini, kita kemudian harus disodorkan pelbagai pemberitaan
Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kedoea:

One Response

  1. Tulisan yang apik, bang! Saya merasa pemblokiran tik tok ini bukan keputusan yang tepat, karena hal yang perlu dibenahi adalah karakter dari orang-orang yang berperilaku negatif tersebut. Tik tok hanyalah sebuah alat atau media hiburan yang disalahgunakan.

    Btw, ternyata saya juga pernah berkontribusi dalam mem-“viral”-kan aplikasi tersebut dengan menambah viewer postingan video tik tok. Haha

Leave a Reply

Your email address will not be published.