Indra Dwi Prasetyo

Sastra VS Agama, sebandingkah?

Kemarin, saya mendiskusikan tentan puisi Ibu Sukmawati. Menurut saya, dalam dimensi puisi, apa yang disampaikannya adalah sebuah subjek relatifitas sebagai pembaca puisi.

Lantas, banyak argumentasi yang membahasnya di status saya sebelumnya, bahkan mengirimkan pesan pribadi kepada saya.

Namun, saya mencoba sekuat tenaga saya melihat persoalan ini dengan seobjektif-objektifnya saya–tentu dengan segala keterbatasan saya.

Saya beranggapan bahwa apa yang dilakukan Ibu Sukmawati adalah sebuah kebebasannya untuk berpendapat sebagai warga negara.

Lalu, bagaimana dengan reaksi publik? Apakah sastra seharusnya mengindahkan kaidah dan nilai di dalam masyarakat? Apakah sastra dapat kita sandingkan dengan agama? Selengkapnya saya ulas di video saya ini.

Silakan komentar dan share jika bermanfaat. Terima kasih

 

 

Share now
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Related articles
“Dahan-dahan kehinaan tidak berkembang kecuali dari benih ketamakan”- (Al-Hikam) Dalam nasihat hari ini, mari
Setiap tahun, kita “meyarakan” World Literacy Day yang diperingati pada tiap tanggal 8 September.

2 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published.