Indra Dwi Prasetyo

Perlukah Membaca Buku?

Perlukah membaca buku

Dalam beberapa kesempatan, beberapa sering kita ditampilkan mengenai tingkat membaca anak Indonesia yang bak jauh panggang dari api; cukup rendah. Dari survei yang dilakukan oleh *Most Littered Nation In the World 2016 yang lalu, tingkat baca penduduk Indonesia terbilang rendah. 0,01 persen buku per tahun! Angka ini jauh dari, misalnya, Jepang di angka 15-18 persen buku pertahun, atau Amerika di angka 25-27 persen buku pertahun.

Dari angka-angka di atas, sebagian kita mungkin ada yang dilema memandangnya, sebagian lagi mungkin biasa saja. Namun, ada hal yang lebih penting daripada menggerutui sebuah keadaan: bagaimana kita seharusnya bersikap?

Salah satu cara yang paling banyak dilakukan adalah dengan menyediakan banyak buku bacaan ketengah masyarakat. Kita berlomba-lomba untuk memajukan dan menumbuhkembangkan minat baca kesesama rekan-rekan muda dengan memberikan mereka akses informasi berupa buku. Apakah cara ini bisa berhasil? Bisa iya, bisa juga tidak.

Ada semacam keterkaitan tak tertulis antara minat membaca dan buku bacaan. Seolah-olah orang senang membaca harus melalui buku. Maka orang yang tidak senang membaca buku, seolah tidak mengetahui apa-apa. Apakah persamaan ini dapat kita gunakan?

Penghancuran Buku Karya fernando Baez
Penghancuran Buku Karya fernando Baez

Dalam sejarahnya, di beberapa referensi mengatakan bahwa buku pertama kali ditemukan di Mesir, *sekitar 2400 SM. Memang bentuknya bukan seperti buku seperti saat ini, mereka menyebutnya Papirus. Dalam bukunya yang berjudul “Penghancuran Buku Dari Masa ke Masa”, Fernando Baez menceritakan dengan apik bagaimana bangsa-bangsa dahulu sangat menghargai buku. Ada yang membuatnya dari kulit kayu, kulit hewan, tanah liat dan lain sebagainya.

Apa yang terjadi selanjutnya menurut Baez cukup mengerikan. Buku sudah seperti tawanan perang yang siap dibumihanguskan ketika perang berlangsung. Oleh karena itu, tidak heran kenapa kiranya banyak perpustakaan yang hancur ketika perang. Itu karena buku dianggap sebagai manifestasi peradaban; menghancurkan buku sama saja dengan menghancurkan peradaban.

Namun, dapat kita maklumi bagaimana manusia zaman dahulu sangat bergantung kepada buku-buku yang mereka miliki. Itu karena tidak ada cara lain untuk mengabadikan ilmu selain menggunakan buku itu sendiri. Proses ini terjadi hingga sekian abad yang menyebabkan ada hubungan positif dari membaca dan buku itu sendiri.

Hari ini, ketika kita hidup di zaman serba teknologi, apakah peranan buku masih “semagis” seperti dahulu kala? Saya rasa tidak. Atau setidaknya, berkurang. Ketika hadirnya Internet of Thing, semua kebutuhan kita nyaris dipermudah dengan adanya teknologi dan internet. Ilmu pengetahuan adalah salah satunya.

Dulu, satu-satunya cara untuk mengetahui sesuatu adalah dengan mencari buku yang membahasnya. Namun saat ini, hal itu semudah dengan mengetikkan kata di mesin pencari internet. hal itupun saat ini dipermudah dengan banyaknya konten yang menyediakan informasi tidak dalam bentuk tulisan, namun audio serta video visual.

Secara audio, telah banyak sekali kita temukan apps semacam audiobook dimana kita hanya mendengarkan saja isi buku yang ingin kita baca. Cukup dengan mendengarkan, kita sudah mendapatkan informasi yang kita inginkan. Bagi yang senang dengan visual, Youtube memberikan segalanya. Kita dengan mudah menyaksikan informasi baru yang hendak kita nikmati.

Bahkan, buat yang masih senang dengan sesuatu yang berbentuk tulisan, aplikasi berbasis E-Book atau Kindle cukup banyak tersedia di internet. Pertanyaan selanjutnya, apakah buku masih kita perlukan?

Saya tidak ingin menjawab pertanyaan tersebut. Namun, saya ingin memberikan sebuah pernyataan bahwa hidup di era ini (mungkin) tidak mengharuskan kita untuk suka terhadap buku bacaan, tapi menyukai rasa keingintahuan, atau awam kita menyebutnya Kepo! Kepo tidak selalu bermakna negatif, ketika kepo diwujdkan kearah yang positif, maka itu adalah salah satu langkah konstruktif dalam perkembangan ilmu itu sendiri.

Ketika kita hidup dizaman dahulu disaat rasa keingintahuan kita terbatas hanya ada di dalam buku, hari ini semua berubah. Buku bukan satu-satunya alat pemberi informasi, internet, Youtube, bahkan sosial media dapat menjadi sebuah alat penambah rasa ingin tahu kita. Pertanyaan selanjutnya, sudahkah kita menggunakannya untuk proses pemenuhan rasa penasaran yang konstruktif?

Sebagai penutup, survei yang saya paparkan di atas memberikan kita gambaran tentang apa yang terjadi ditengah masyarakat kita. Namun, menitikberatkan pada buku semata untuk meningkatkan nilai baca saya rasa juga tidak tepat. Daripada meningkatkan tingkat membaca dengan menyediakan buku bacaan yang mungkin tidak dibaca oleh sebagian orang yang tidak menyenanginya, ada baiknya kita meningkatkan rasa ingin tahu masyarakat kita.

Setelah menumbuhkan rasa ingin tahu di tengah masyarakat, silakan mereka memilih dengan apa mereka akan memuaskan keingintahuan tersebut. jadi, buku masih penting atau tidak?

 

Referensi:

*https://webcapp.ccsu.edu/?news=1767&data

*https://tirto.id/najwa-paparkan-data-soal-rendahnya-minat-baca-indonesia-cupM

*https://id.wikipedia.org/wiki/Buku

Share now
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Related articles
Dalam dunia Filsafat atau sosiologi, nama Ibn Khaldun mungkin sudah seringkali kita dengar. Namun,
“Bu, saya mau jadi Presiden, Bu” Dulu, banyak diantara kita yang sedari SD bercita-cita

Leave a Reply

Your email address will not be published.