Indra Dwi Prasetyo

Mesin Teleportasi itu ada!

Setelah meneguk teh hijau di tengah terik 39 derajat Kota Melbourne, kami memutuskan untuk menuju State Library of Victoria. Bangunan dengan arsitektur khas eropa itu merupakan salah satu ikonik kebanggaan masyarakat Melbourne sekaligus sebuah perpustakaan daerah dengan 5 tingkat ketinggian. karena memiliki arsitektur eropa, maka dapat dengan mudah kita temui beberapa patung maupun lukisan orang-orang ternama khas Barat, seperti Willian Shaksphere maupun Aristoteles di pelataran maupun ruang baca perpustakaan itu sendiri. Soal jumlah buku, nampaknya tak diragukan lagi. Kita bisa menemukan buku dari belahan penjuru dunia dengan ragam genre dan bahasa. Dilengkapi dengan tempat duduk yang enak, wi-fi yang kencang serta ruangan yang adem serta tanpa suara, nampaknya menghabiskan waktu di pojok bangunan ini merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri bagi pecinta aksara.

Mozaik William Shakspere
Mozaik William Shakspere

Sebenarnya, sudah beberapa kali aku memasuki perpustakaan ini, namun kesempatan yang lalu banyak aku habiskan untuk sekadar mengerjakan tugas ataupun menghabiskan waktu dengan bacaan. Hari ini berbeda, karena kami kesini untuk salah satu pembuatan video klip,  Dhika, salah satu rekanan project kami hari itu tiba-tiba berkata pada kami disebuah pojok ruangan, “Mau, kutunjukan sebuah ruangan membaca koran?” Seketika pikirku berkecamuk nyaring, “Gila apa, jauh-jauh kesini cuma untuk baca koran! sedangkan buku saja jumlahnya tak terhingga!” Namun, kuikuti saja langkahnya menuju rak-rak besi berwarna biru muda. Ketika berhenti, ia lanjut berkata, “Nah disini koran-koran Australia di digitalisasi!”. Ketika rak dibuka, terdapat gulungan film. Eh tunggu, “apa hubungannya digitalisasi koran dan gulungan film?”, pikirku.

Roll film koran
Roll film koran

 

Ternyata ini rahasianya. Bisa jadi, mayoritas koran-koran tempo dulu di Australia sudah didigitalisasi oleh pemerintah Australia kedalam gulungan-gulungan film. Gulungan film itu menyimpan rekam jejak sejarah didalam kata-kata yang tersimpan bahkan 100 tahun lamanya. Seketika mataku terbelalak setelah melihat deretan rak yang bertuliskan “12 July 1902 to 24 April 1967”. Itu artinya, rak tersebut menyimpan koran-koran yang telah berusia 100an tahun yang lalu. Wow! Tak sabar aku untuk melihat cara kerjanya. Bergegas kami menuju sebuah ruangan. Disana terdapat sebuah alat konvensional untuk memutar gulungan film tersebut. Kukatakan konvensional karena alat ini masih menggunakan tenaga manusia sebagai mekaniknya, dan di sudut ruangan lainnya terdapat alat yang sudah 100% otomatis dan menggunakan komputer. Perlahan gulungan film itu dimasukan kedalam alat pembacanya, secara hati-hati Dhika menggunakan instingnya sebagai kameramen untuk memperlakukan dengan baik gulungan film tersebut (Anyway Dhik, semoga pernikahan lo lancar, *apaan sih). Dan finally, koran yang sudah puluhan tahun tersebut dapat kami saksikan citranya melalui layar yang tersedia.

 

Kondisi ketika membaca koran digital
Kondisi ketika membaca koran digital

Asik membaca dan mencari-cari artikel yang relevan dan asyik, aku kemudian berpikir untuk apa sebenarnya Australia mendigitalisasi koran-koran mereka. Dan pikirku langsung tertuju pada satu kata: penelitian! benar saja, banyak mereka yang datang adalah mereka yang mencoba untuk mencari tahun sebab musabab dari sebuah kejadian masa lampau dari perspektif media, koran salah satunya. Metode ini justru sangat menguntungkan bagi para Sejarawan untuk menelisik sebuah peristiwa masa lalu dari sumber utamanya yang lebih aktual dan otentik. Kesempatan ini juga dimanfaatkan bagi anak-anak muda untuk lebih eksploratif lagi dalam pencarian-pencarian informasi masa lalu. Sehingga pilihan-pilihan akan akses informasi tidak hanya lagi terbatas pada lembaran buku dan tampilan digital handphone, namun juga melalui gulungan film koran tersebut.

 

 

Warga sekitar yang sedang membaca
Warga sekitar yang sedang membaca

Menyaksikan bagaimana pemerintah Australia mendigitalisasi arsip koran mereka dapat menyadarkan kita akan pentingnya mereka menjaga harta mereka sendiri–informasi. Bukan hanya mendigitalisasi buku dan lembaran-lembaran penting lainnya, namun juga koran. Ini justru menamparku sebagai mahasiswa yang kerap berkecimpung dengan informasi. Tak jarang, kertas koran kujadikan lap, tempat duduk di lantai, ataupun pembungkus gorengan (ini curhat :p). Padahal, seharusnya kita lebih arif lagi dalam memanfaatkan informasi yang tersedia didalamnya. Aku bisa membayangkan bahwa berabad lalu, manusia menginginkan adanya teknologi teleportasi dimana manusia bisa berpindah melalui suatu ruang dan waktu ke dalam ruang dan waktu lainnya, atau sederhananya pintu ajaib Doraemon. Walaupun hingga saat ini ilmuwan belom mampu merealisasikannya, namun agaknya kita bisa bernafas lega. Walaupun fisik kita tidak bisa menembus dimensi dan ruang yang berbeda dengan saat ini, namun setidaknya alam pikir kita bisa melangkah kemanapun kita pergi, bahkan ratusan tahun yang lalu. Ya, aku sudah cukup puas dengan teleportasi semodel ini.

Share now
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Related articles
Melihat dinamika anak Milenial memang unik. Generasi satu ini tidak hanya dinamis, namun juga
Indra Dwi Prasetyo lahir di Kota Singkawang 18 Januari 1994. Indra merupakan anak dari

Leave a Reply

Your email address will not be published.