Indra Dwi Prasetyo

“Mengajar tanpa menghajar, mendidik tanpa menghardik”

Siswa ditampar Guru

Beberapa hari yang lalu, beredar sebuah video yang menayangkan sebuah adegan yang dipercaya sebagai seorang guru disalah satu sekolah yang menampar siswanya dengan keras: K. E. R. A. S. (Beritanya dapat dibaca disini). Dalam seketika, video tersebut menjadi tayangan umum penguna media sosial dan tak lama berselang, guru tersebut ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian.

Sebenarnya, ada banyak sekali kasus serupa yang terjadi, baik dari level dasar hingga SMA. Persoalan indispliner kerap dijadikan sebuah alasan yang digunakan atas peristiwa kekerasan tersebut, sehingga cara-cara seperti itu sekiranya dipercaya sebagai salah satu langkah untuk menertibkan siswa yang “tidak tertib” tersebut.

Dari video yang bereda, saya mencoba menyajikan beberapa komentar dari Netizen yang jumlahnya ribuan tersebut. Berikut adalah beberapa diantaranya:

“Murit skrg klo gk di gitukan Tmbh kurang ajar
Jman ku dulu klo nakal bukan cuma di tampar
Mlh pake penggaris kayu yg tebal
Gak mungkin guru mukul ato nampar klo murut nya gda salah” (Komentar 1)

“Setuju pak guru ,,, didikan seperti itu sangat wajar karena muridnya pasti keterlaluan 
Yg gk setuju suruh buka sekolah – diajar – bikin rapor + ijazah sendiri” (Komentar 2)

Dan masih banyak juga komentar-komentar sejenis. Lantas, benarkah kekerasan dapat dijadikan cara untuk menertibkan siswa disekolah?

Jawaban saya BISA.

Namun, saya berpendapat bahwa kekerasan yang digunakan untuk menertibkan siswa bukanlah cara yang baik sama sekali. Cara ini jelas melanggar hukum. Hal ini tidak saja meninggalkan beban fisik bagi peserta didik, namun juga beban psikologis.

Tamparan, tinjuan, atau hukuman fisik lainnya tentu saja meninggalkan sakit yang membekas ditubuh. Dalam skala ringan, mungkin bisa sembuh dengan sendirinya, namun dalam skala yang lebih besar, cedera serius dapat terjadi.

Bukan hanya iu, gejolak psikis yang dialami sang anak juga sulit untuk disembuhkan. Rasa takut, malu, gelisah bisa saja dialami oleh salah satu siswa siswi yang mengalami kekerasan fisik. Bahkan, tidak jarang, mereka yang malas pergi ke sekolah atau belajar suatu pelajaran tertentu karena memiliki guru yang keras dalam mendidik.

Tapi, selalu saja ada yang membandingkan mereka yang memeroleh pendidikan zaman dulu dengan saat ini. Argumen yang disampaikan selalu sama, bahwa mereka mengalami tindakan yang lebih keras dari itu, namun mereka menerimanya dengan ikhlas sebagai sebuah pembelajaran untuk lebih disiplin.

Bagi saya, alasan di atas tidak bisa sepenuhnya dijadikan acuan. Saya juga pernah memiliki guru yang keras sewaktu sekolah dulu, memang saya akan lebih disiplin, namun apakah saya disiplin karena bentuk tanggung jawab saya? Jujur, tidak. Saya disiplin karena takut. Saya takut dimarah dan dihukum.

Lalu, apakah tujuan pendidikan adalah memberi rasa takut?

Jika tujuan kita memeroleh pendidikan adalah sebagai penumbuh rasa takut, maka saya rasa sah-sah saja kejadian penamparan tersebut. Namun, jika tujuan kita untuk belajar adalah sebagai pemenuhan dasar manusia atas dirinya dan proses menjadi manusia yang bertanggung jawab, maka rasa takut harus benar-benar hilang dalam proses belajar.

Saya tahu, proses menumbuhkan tanggung jawab kepada anak-anak untuk dapat megontrol perilaku mereka secara otonom memang tidak mudah, terlebih di zaman ini, dimana pergaulan mereka tidak memiliki batas akibat media sosial. Pasti ada saja anak-anak yang nakal dan bermental melawan. Namun, sekali lagi, tidak harus diselesaikan dengan kekerasan.

Kita sedang mengalami masa transisi dari zaman yang otoriter menuju zaman yang lebih demokratis dalam semua lini, tak terlepas pula pendidikan. Pendidikan harus lebih dimaknai sebagai ajang mengajarkan tanggung jawab dan otonomi diri ketimbang sebagai ajang untuk mengontrol dan mengekang.

Kekerasan memang dapat merubah perilaku anak secara instan. Namun percayalah, mereka berubah karena mereka merasa takut. Itu saja, tidak lebih.

 

Share now
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Related articles
Nyaris sejak April 2020, Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menerapkan kebijakan
Melihat dinamika anak Milenial memang unik. Generasi satu ini tidak hanya dinamis, namun juga

4 Responses

  1. Masalah pendidikan di indonesia,
    setiap kali saya mendengar dan melihat berita tengtang hukuman fisik pada siswa oleh oknum pengajar/guru, yang pertama kali ada di benak saya selalu dua pertanyaan “apakah murid itu tidak mendapat pendidikan yg baik oleh keluarga dan lingkungan tempat tinggal mereka? Atau, pengajar yang tidak memiliki jiwa dan wibawa seorang pendidik,yg terburuk munkin mereka kurang memiliki kemampuan (teknik) mendidik?”

    Karena mendidik dengan menggunakan hukuman fisik itu tidak manusiawi. Dan terkesan seakan-akan pesrta didik/siswa itu seperti hewan sirkus yang harus dicambuk saat salah dan di beri makanan saat apa yg mereka lakukan benar. Dan lebih lagi hukuman tersebut dilakukan dengan alasan siswa nya nakal,ngelawan,atau ngeyel. Itu menunjukan ketidakmampuan pengajar dalam mendidik siswa hentah karena sebenarnya bukan passion mereka,atau mereka miskin dalam teknik mendidik. Atau munkin pengajar memandang profesinya seperti aktifitas produksi,mereka mencetak murid dgn nilai baik dan disiplin maka mereka berhak mendapat upah.munkin itu yang harus di perbaiki.

    mereka harus sadar bahwa pendidikan itu bertujuan untuk mengembangkan potensi di dalam diri manusia dan menanamkan norma,bukan untuk melatih dan menjinakan. Itu sebabnya pendidikan merupakan upaya untuk memanusiakan manusia.

    Itu pendapat saya tenta issue ini,maaf klo terlalu banyak kekurangan atau bahkan kekeliruan dan typo hehehe

    1. Great ideas! Saya suka dengan pendapat Bung Sony dalam mengurai masalah ini. Dimulai dari ruang lingkup kecil bernama keluarga, lalu mengelaborasi tentang pendidikan sebagai sistem “produksi”. Ada beberapa yang saya sepaham, terutama dengan nilai yang terlalu dianggap kaku di sekolah-sekolah pada umumnya. Kalau tidak X, maka Y. Kalau tidak bisa mengerjakan A, maka dianggap B. Menurut saya, seharusnya tdak begitu. Setiap anak terlahir dengan bakat-bakat yang bebeda.

      Salam

    1. Pertama, latih siswa-siswi cara berpikir, bukan apa yang harus dipikirkan. Dengan demikian, mereka akan lebih bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya.

      Namun, pasti ada saja satu dua siswa yang masih bertindak “tidak sepatutnya”, justru itulah tujuan pendidikan; berproses menuju “kepatutan”. Tidak ada cara lain selain pendekatan yang lebih personal dan memerdekakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.