Indra Dwi Prasetyo

Literasi vs Justifikasi

Belakangan ini, identifikasi diri terhadap seseorang santer kuat terdengar. Di laman Facebook ini terutama, klaim-klaim atas seseorang dihaturkan; beberapa dengan sopan, beberapa dengan sebagian akal yang hilang. Beberapa kasus yang terjadi belakangan, misalnya diskusi-diskusi buku dan film yang harus dibubarkan paksa karena alasan-alasan “ideologis” kiranya. Tak mengasyikan, kan?!
.
Boleh jadi pilpres lalu adalah katalisatornya. Bagaimana tidak, fitnah-fitnah ala hoax bintang 5 bertebar biar. Bisa dibagikan dari kaum elite hingga “grassroot”, dari yang sarjana hingga minim aksara. Tak berhenti di hoax, provokasi kerap kali duduk-berdampingan-tangan menemani berita palsu. Akibatnya apa? Masyarakat mudah dibenturkan. Tak mengenakan, kan?!
.
Paska itu, Identifikasi diri menjadi jagoan dalam setiap lintas diskusi media sosial. Yang membaca Mein Kampf sudah pasti PKI, yang membahas biografi Hasan Al-Bana sudah pasti IM, yang membaca biografi Soekarno dianggap “kiri” dan dan pengagum–“Piye sek penak jamanku Toh”–Soeharto dilabel anti demokrasi. Lucu kan? Yang lebih lucu lagi adalah ketika yang mengidentifikasi ternyata tak membaca apa yang kita baca, menonton apa yang kita tonton. Cukuplah literasi ala Facebook dijadikan rujukan.
.
Memang, adagium “you are what you read” begitu terkenal. Tapi bukan itu masalahnya! Masalahnya adalah stereotipe; berburuk sangka. Kita acapkali khawatir dengan pemikiran yang berbeda, takut dengan yang tidak searus dengan yang banyak. Setali tiga uang, Prof. Maarif berujar, “mereka yang takut kepada pemikiran berbeda adalah manusia fosil”. Mari gunakan istilah “you are what you read” sebagai sarana pembebasan yang bertanggung jawab, sebagai hak literasi. Bukan sebaliknya, untuk dikuliti atau dijustifikasi provokatif.
Kalau tak lagi mengasyikan, ayo kita ubah saja dengan “you are what you eat”! Bagaimana? Saya sukanya makan bakso, kalau kamu? Eh tunggu dulu, makan bakso tak dijustifikasi negatif, kan?
Share now
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Related articles
Menyoal tentang cinta, ia tak ubahnya sebuah kata benda biasa. Tak terlalu bermakna jika
Melihat dinamika anak Milenial memang unik. Generasi satu ini tidak hanya dinamis, namun juga

2 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published.