Indra Dwi Prasetyo

Homo Deus; manusia masa depan?

“Sekitar 6 juta tahun yang lalu, seekor kera betina memiliki 2 ekor anak betina; yang satu menjadi nenek moyang simpanse saat ini, satu sisanya menjadi nenek moyang manusia” (Harari, 2015)

Sehari yang lalu, saya membaca salah satu berita online tentang Yuval Noah Harari, seorang professor, pakar sejarah dunia yang akan meluncurkan buku terbarunya pada Selasa (10/10/2017) mendatang. Buku yang akan diterbitkanya akan melengkapi deretan buku Harari tentang tiga jenis waktu, masa lalu, masa sekarang serta masa depan. Sebelum membaca dan menduga apa isi buku yang akan diluncurkan pada hari selasa, tak ada salahnya kita melihat kembali apa yang ditulis Harari melalui dua buku sebelumnya: Sapiens dan Homo Deus.

Konstruksi sejarah dunia dimulai Harari pada 13,5 milyar tahun yang lalu, dimana zat dan energi tercipta untuk pertama kalinya. Namun, proses ini mungkin dapat dijelaskan oleh pakar lainnya dibidangnya, dibuku Sapiens, Harari lebih menekankan pada bagaimana manusia melakukan evolusi tidak hanya berbentuk perubahan fisik, namun lebih dari itu. Sekitar 2,5 juta tahun  yang lalu, manusia pertama kali berevolusi di Afrika Timur dari suatu genus kera yang disebut Australopithecus, yang berarti “Kera dari Selatan”. Perubahan dan evolusi pada awal mula manusia tidak berhenti sampai pada tahap ini, Homo Neanderthalensis kemudian merupakan evolusi selanjutnya dari cikal bakal manusia pada jenis pertama yang berada di Eropa dan sekitaran barat Asia. Kata Nenanderthalensis memiliki arti sebagai “manusia dari lembah Neander”, atau lebih singkat disebut Neanderthals. Berbeda halnya dengan evolusi yang terjadi dibagian Barat, di daerah Timur evolusi yang terjadi menciptkan Homo yang berbeda, atau yang biasa disebut Homo Erectus; manusia yang sanggup berdiri tegak. Homo sapiens, cikal bakal manusia masa kini, baru akan hadir sekitar 1000 tahun setelah proses ini.

Homo Neanderthals
Homo Neanderthals

Selain evolusi-evolusi tersebut diatas, masih terdapat beberapa jenis evolusi lainnya seperti Homo Soloensis, Homo Floresiensis, Homo Rudolfensis, Homo Ergaster, dan terakhir yang disebut sebagai “wise man”, Homo Sapiens. Proses evolusi pada cikal bakal manusia ini dimulai dengan penemuan-penemuan alat kelangsungan hidup, api, peralatan berburu dan berbagai alat penunjang hidup lainnya. Namun, proses menduduki sebuah teritori sudah dilakukan setiap manusia pada jenisnya dan pada akhinya, Homo Sapiens yang memiliki kapasitas otak lebih dari Homo lainnya mengungguli makhluk sejenisnya pada masanya. Setidaknya, terdapat dua teori mengapa Homo sapiens dapat tersebar dan menguasai bumi saat ini. Teori pertama adalah kawin silang (Interbreeding Theory) dimana Sapiens melakukan interaksi kawin terhadap Homo jenis lainnya di sudut lain dunia. Teori kedua adalah teori pergantian (Replacement Theory) dimana Sapiens dengan kecerdasannya dapat menakhlukkan jenis Homo lainnya tanpa melakukan proses kawin silang. Atas dasar ini, perkembangan evolusi sapiens menjadi tak terbendung. Evolusi yang pada akhirnya menjadi sebuah revolusi pada beberapa tatanan kehidupan, merubah cara hidup manusia secara holistik, sebut saja seperti Revolusi Kognitif (70.000 ribu yang lalu), Revolusi Agrikultur (10.000 tahun yang lalu) dan Revolusi Saintifik (500 tahun yang lalu). Dalam proses-proses tersebut, budaya, agama, kepercayaan, alat bantu yang lebih canggih dan proses berfikir manusia muncul dan terus berkembang.

Apakah revolusi oleh Homo Sapiens ini masih akan terjadi dimasa yang akan mendatang? Didalam buku Sapiens, Harari mulai pertama kalinya menyebut kata Superhuman (manusia super) dan diperjelas dibuku selanjutnya yang berjudul Homo Deus.  Proses perubahan ini dimulai ketika manusia menemukan sebuah intelegensia diluar otaknya sendiri atau disebut sebagai tekhnologi. Pada istilah lainnya, paradigma manusia pada masa mendatang akan menitikberatkan pada fungsi data sebagai salah satu material terpenting didalam hidup manusia, atau dalam istilah berbeda disebut dataism. Kata Homo Deus sendiri diartikan sebagai sebuah paham atau dogma yang berbeda yang pernah terjadi pada rentetan sejarah manusia, yang berarti paham ketekhnologian (dataism). Paham ini sendiri merupakan pengembangan dari isme-isme berbeda yang pernah hadir mengisi ruang hidup manusia, dimulai saat animisme yang terjadi pada revolusi kognitif, theisme pada revolusii agrikultur, dan humanisme pada manusia modern saat ini. Bahkan, pada titik tertentu, dataism dapat merubah pola fikir dan algoritma manusia akan konsep ketuhanan. Hal ini akan bertumbuh seiring dengan pesatnya revolusi pada Homo Deus itu sendiri.

data
data sebagai bentuk isme masa depan

Pada akhirnya, Harari mengingatkan kita akan pentingnya manusia mengenal waktu sebagai harta dan dan bagian dari proses berfikir  yang tak terelakkan dari diri manusia. Terlepas dari setuju atau tidaknya kita dalam menyikapi tulisan Harari, kita tidak bisa membantah bahwa masa hidup manusia terbagi atas tiga masa: masa lampau, masa sekarang dan masa depan. Namun, pada bagian tertentu dari buah fikir Harari, kita dihadapkan pada banyak pertanyaan besar. Apakah benar bahwa kita, manusia, adalah makhluk yang istimewa yang memiliki kapasitas berbeda dari makhluk hidup lainnya, ataukah kita persis sama seperti makhluk hidup lainnya namun dengan kemampuan alogaritma yang berbeda? Dan dengan apa yang telah dilakukan Homo Sapiens di masa lampau terhadap Homo lainnya, akankah pula dilakukan oleh Homo Deus dimasa mendatang terhadap kita, Homo Sapiens? Entahlah (*)

 

Referensi:

  1. https://www.theguardian.com/books/2017/oct/06/sapiens-author-harari-new-book-to-cover-global-warming-god-and-nationalism
  2. Harari, Y. N. (2015). Sapiens: A brief history of humankind. Random House UK. (Bisa didapatkan disini https://www.tokopedia.com/content/66396702)
  3. Harari, Y. N. (2017). Homo deus: A brief history of tomorrow. London: Vintage. (Bisa didapatkan disini https://www.tokopedia.com/content/66398761)

 

Share now
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Related articles
Dalam sumir senja yang malu -malu menjelang sore, saya mencari tempat berteduh untuk sesaat.
Beberapa dari kita mungkin pernah mendengar istilah “thinking out of the box” dimana kita

8 Responses

  1. I’m wondering how big is your luggage to bring those books all along Indonesia-Australia? Or is it just your brain which contains everything?
    Again, a thoughtful writing. Thank youuuu.

  2. another bold statement another knowledge to eat. Nice and neat, can you write something about our culture? Or if you have written it you can tag me thank you

Leave a Reply

Your email address will not be published.