Indra Dwi Prasetyo

Disabled vs differently-abled

 

Payah, masa gitu aja gak bisa sih!”

“Soal gampang kayak gini aja kamu gak ngerti?”

 

Mungkin beberapa dari kita pernah mengalami atau bahkan mengatakan hal diatas kepada teman kita atau saudara kita sendiri. Perihal PR matematika, atau ketika belajar bermain gitar, atau mungkin ketika bermain game online dsb. Lalu apa ujung pembicaraan tersebut? Tidak jarang berujung pada kalimat cemooh, seperti; “bodoh, goblok, bego amat sih” dan mungkin sederet kata-kata yang menyakitkan hati lainnya. Mengapa hal itu sering terjadi? Apakah memang manusia memiliki titik kemampuan universal—dimana menjadi sebuah benchmark bagi setiap manusia untuk menilai manusia lainnya?

Percakapan diatas dimungkinkan terjadi pada kondisi dimana manusia memiliki perspetif yang hitam-putih. Perspektif dimana manusia hanya meiliki dua perspektif kebenaran; benar atau salah, pintar atau bodoh dst. Perspektif itu meletakkan manusia yang berbeda dengan kita sebagai kontradiksi dari diri kita, sebagai negasi dari personalia diri kita. Analoginya, kalau saya mahir bermain piano, maka mereka yang tidak bisa dianggap bodoh. Perspektif ini meletakkan titik berat pada diri kita yang abled atau mampu sedangkan orang lain kita anggap disabled alias tidak mampu. Perspektif hitam-putih ini tidak hanya mendorong kita untuk berfikiran sempit dan tidak holistik, namun juga mengarahkan kita pada satu titik prasangka.

Berbeda dengan narasi di paragraf sebelumnya, sebuah perspektif yang penulis tawarkan adalah perspektif putih-putih. Perspektif putih-putih menawarkan sebuah perspektif dimana setiap setiap manusia berhak untuk menentukan titik putihnya sendiri tanpa memerlukan intervensi tafsir dari kita. Logika yang terbangun dari perspektif ini adalah ketika penulis menganggap dirinya sendiri abled dalam sebuah keterampilan tertentu, maka mereka yang tidak terampil di kemampuan tersebut dianggap sebagai differently abled,  atau mereka yang memiliki keterampilan berbeda. Cara melihat seperti ini sangat konstruktif dalam membangun sebuah hubungan antar manusia secara positif, dimana mengedepankan sikap saling menghormati dan menghargai.

Memiliki logika pikir seperti ini akan mendorong kita untuk berfikiran secara holistik. Bahwa memang pada dasarnya Tuhan menciptakan manusia dengan beraneka ragam bentuk juga keterampilan. Bahwa dengan mengakomodasi satu keterampilan dan menafikan keterampilan lainnya, barangkali kita masih belom bijak dalam menilai sebuah keragaman. Misal, ada seorang anak yang memiliki nilai yang rendah di mata pelajaran tertentu yang kemudian diejek dan mengalami diskriminasi psikis dari teman-temannya. Padahal, mungkin saja ketika sore hari dimana teman-teman sejawatnya sedang asyik mengikuti les dengan harga selangit, anak ini sedang membantu orang tuanya disawah memanen padi. Atau ketika waktu pagi dimana anak-anak lainnya sarapan menggunakan makanan 4 sehat 5 sempurna, anak ini hanya berbekal gorengan yang ia buat bersama ibunya untuk kemudian dijajakan di sekitaran rumahnya. Lalu, apakah anak semacam ini kita anggap disabled?

Cerita diatas hanya sekelumit dari sebuah persilangan perspektif yang awam terjadi di masyarakat. Bahwa penilaian atas sesuatu kebanyakan diukur menggunakan satu alat ukur yang absolut, dengan tidak mengindahkan metode ukur yang berbeda. Merujuk pada cerita diatas, boleh jadi anak kecil tadi tidak memiliki keterampilan belajar pada mata pelajaran tertentu seperti umumnya anak seusianya, namun sebaliknya memiliki kemampuan inter dan intra personal yang mumpuni untuk anak seumurnya. Memang benar, pendidikan kita masih banyak yang menerapkan pola pikir hitam-putih dalam melihat siswa-siswinya. Namun, kita, selaku anak muda Indonesia sudah saatnya berbenah dan berkontemplasi, minimal kedalam alam pikiran kita sendiri, bahwa bersudut pandang hitam-putih itu rentan akan ketidakadilan pikir. Bukankah Pram (1925) sejak jauh hari yang lalu sudah berpesan kepada kita bahwa “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”?

 

*source of picture: https://ajp.com.au/features/the-kids-are-alright/

Share now
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Related articles
“Amal adalah kerangka yang tegak, sementara ruhnya adalah rahasia ikhlas di dalamnya” (Al-Hikam) Kemarin,
Tidak jarang, media sosial saya berdering dari teman-teman yang bertanya seputaran beasiswa maupun program

Leave a Reply

Your email address will not be published.