Indra Dwi Prasetyo

Apa yang salah dengan pencitraan?

Salahkah pencitraan?

Dalam beberapa tahun kebelakang, terdapat beberapa makna kata yang berubah konotasinya dari arti aslinya. Hal yang awalnya bermakna netral, tiba-tiba harus berubah menjadi negatif bagi beberapa kalangan. Salah satu kata tersebut adalah: Pencitraan.

Kata pencitraan dalam konteks hari ini mungkin berawal pada saat Presiden Jokowi dituduh hanya berpura-pura dalam melaksanakan tugasnya sebagai presiden, penuh intrik dan hanya menampilkan sisi positif saja tanpa menunjukkan sisi negatif dari kebijakannya. Apapun itu, saya tidak akan membahasnya di tulisan ini.

Maka, mari lupakan konteks pencitraan politik tersebut. Mari kita bicarakan pencitraan yang lebih konstruktif: Pencitraan Diri. Secara kaidah bahasa, citra menurut KBBI adalah:

1 rupa; gambar; gambaran; Man gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi, atau produk; Sas kesan mental atau bayangan visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frasa, atau kalimat, dan merupakan unsur dasar yang khas dalam karya prosa dan puisi”

Lalu, maksud dari pencitraan itu apa? Tidak ada definisi secara spesifik untuk kata pencitraan itu sendiri di KBBI, namun definisi personal saya, pencitraan adalah sebuah proses atau usaha atau upaya untuk menunjukan gambar diri atau kesan mental diri baik melalui visual atau tulisan kepada orang lain. Lalu, apa masalahnya?

Menurut saya, tidak ada yang salah dengan pencitraan. Pencitraan–dalam konteks tertentu–adalah hal yang wajar dan lumrah. Suatu hari, ada yang bertanya ke saya,

“Emangnya, apa sih pentingnya pencitraan, Ndra”?

Lalu enteng saya jawab, “Kamu setiap hari mandi gak? Pakai baju yang rapi atau wangi gak? Rambutnya disisir gak? Nah, itu adalah pencitraan!”

Pencitraan adalah usaha yang kita lakukan agar kita nampak seperti apa yang kita inginkan dimata orang lain. Jika kita ingin tampak sebagai orang yang rapi, maka kita akan mengenakan pakaian yang rapi ketika diluar rumah. Tujuannya apa? Agar orang lain menganggap kita orang yang rapi.

Sukur-sukur jika kita emang sudah rapi sedari aslinya, namun jikapun kita bukan orang yang rapi, emang apa salahanya “berpura-pura” rapi di depan publik?

Apakah itu salah? Tentu saja tidak. Kita tentu ingin terlihat baik dan bagus di depan orang lain, walau kita sendiri paham akan kekurangan kita. Tentu, pada konteks ini, kata baik dan bagus sangat multiinterpretatif, tidak bisa di tarik secara umum. Namun, ketika kita memerlukan sebuah kebaikan dan kebagusan, pada saat itulah kita memerlukan pencitraan!

Pertanyaan selanjutnya, ketika pencitraan sejatinya tidak benar-benar mencerminkan diri kita, apakah masih dapat dibenarkan? Misalnya, si Mamat adalah menikmat lagu Dangdut, namun agar terlihat keren di depan teman-temannya, status-status media sosialnya ataupun kamarnya dipenuhi degan pernak-pernik musik beraliran Rock. Mungkin kita bisa tidak setuju pada kasus si Mamat, tapi secara pribadi, itu adalah haknya. Itu adalah hak dirinya untuk menjaga domain-domain privatnya.

Ada ruang-ruang personal yang kita tidak boleh bahkan tidak perlu ketahui mengenai diri seseorang. Misal, ketika Si Jambul banyak memosting tentang Agama atau menulis sesuatu yang berhubungan dengan Agama, sebagai makhluk sosial, yang berhak kita tangkap adalah bahwa ia ingin mencitrakan dirinya agamis atau minimal dekat dengan agama. Udah, itu saja. Perihal kehidupan aslinya, sudah bukan urusan kita.

Dalam hal ini, banyak masyarakat yang masih belum bisa mengendalikan dirinya untuk masuk terlalu dalam perihal kaidah privasi. Misal, ketika ada teman kita yang mencitrakan dirinya seperti X, maka banyak pula yang mencibir dengan perkataan meremehkan dengan kata-kata: “Alah pencitraan doang itu!”. Kalaupun memang orang itu berdusta pada dirinya sendiri, itu benar-benar bukan urusan kita.

Terlebih ketika kita hidup di dunia virtual saat ini. Pencitraan tidak lagi direpresentasikan oleh penggunaan make-up, atau penampilan fisik saja seperti baju atau tas, namun lebih dari itu. Pencitraan bisa berupa postingan-postingan gambar atau bahkan cuplikan-cuplikan video kita di media sosial kita. Baik facebook, Twitter, Instagram, dan lain sebagainya.

Silakan untuk tidak setuju dengan saya perihal bagaimana kita melihat fenomena pencitraan hari ini. Namun, yang ingin saya tekankan di tulisan ini adalah bagaimana kita memisahkan antara domain kita sebagai makhluk sosial dan domain kita sebagai makhluk privat.

Ruang diskusi kita hanya membahas persoalan-persoalan yang ada diranah sosial; yang tampak oleh mata. Perihal yang tidak tampak oleh mata kita, biarkan saja. Itu bukan urusan kita.

Share now
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Related articles
Bagi teman-teman yang  senang belajar dan menemukan keasyikannya dalam menggeluti teori dan buku-buku bacaan,
Kapan terakhir teman-teman memiliki satu waktu yang asyik dan digunakan untuk “bermain”? Ok, saya

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published.