Indra Dwi Prasetyo

Studi di australia, tepatkah?

Kuliah di Australia

sudut kampus Monash University

Bagi teman-teman yang  senang belajar dan menemukan keasyikannya dalam menggeluti teori dan buku-buku bacaan, tentunya sangat ingin untuk menempuh studi hingga ke jenjang tertinggi. Apalagi ini musim wisuda bagi teman-teman S1, pasti banyak dari rekan-rekan yang ingin melanjutkan studinya ketingkat Master atau S2. Beberapa list mungkin sudah disiapkan, mulai dari list universitas, biaya dan beasiswa, dan yang tidak kalah penting adalah lokasi kampusmu; bisa di dalam atau di luar negeri. Nah, buat teman-teman yang kebetulan ingin melanjutkan studi lanjut di luar negeri dan terlanjur memasukan Negara Australia sebagai negara tujuan, saya rasa penting untuk menelaah kembali alasannya untuk studi di Negeri Kangguru ini. Baiklah, agar tidak menjadi klise, akan saya deskripsikan sesaat lagi *nyeduh wedang jahe*

Hal yang pertama yang perlu diperhatikan mengenai kampus tujuan kita adalah reputasi akademik kampus tujuan. Well, untuk urusan beginian, kalian tidak perlu ragu dengan kampus-kampus di Australia karena sebagian kampusnya terdaftar di dalam 100 kampus terbaik di dunia! Kita sebut saja the University of Melbourne, the University of Sydney, Australian National University (ANU), the University of Queensland, the University of New South wales, Monash University, the University of Adelaide, dan masih banyak lainnya. Kampus-kampus tersebut terkenal dengan reputasinya baik untuk kajian sosial, eksakta, kesehatan, pendidikan, teknik hingga teknologi. Terdapat setidaknya 15 peraih penghargaan Nobel yang berasal dari kampus Australia. So, untuk kajian secara akademik kawan-kawan tentu dapat mempertimbangkan kamus Australia sebagai salah satu daftar pilihan studi. Selain pertimbangan akademik tersebut, lamanya waktu studi juga memungkinkan mahasiswa untuk dapat menggali lebih jauh pendidikannya. Australia memiliki jangka waktu untuk studi Master yang sama dengan Indonesia, walaupun ada juga bebrapa jurusan dan kampus yang memilki waktu yang dapat lebih lama ataupun lebih singkat. Namun, secara umum waktu tempuh studi master dirampungkan pada waktu 2 tahun. *masih niup-niup wedang jahe

sudut kampus Monash University
sudut kampus Monash University

 

Selain pertimbangan akademik, pertimbangan biaya seringkali menjadi hambatan kita untuk studi. Tapi tenang, selagi tekat kita kuat maka banyak jalan menuju roma: beasiswa adalah salah satunya! Banyak beasiswa yang menjadikan Australia sebagai destinasi negara untuk studi, salah satunya seperti saya, Beasiswa LPDP. Terdapat 15 kampus yang direkomendaikan LPDP untuk kamu jajali nuansa akademiknya. Selain yang saya sebutin diatas, masih ada seperti RMIT, Deakin University, James Cock University dst. Untuk dapat mengetahui info lebih jauh mengenai beasiswa ini, kawan-kawan bisa mengakses link berikut http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/ . Namun, LPDP bukanlah satu-satunya beasiswa yang dapat mengantarkanmu ke Negeri 1-hari-4-musim ini, ada juga beasiswa Australian Awards. Beasiswa ini dikhususkan bagi kamu yang berminat untuk studi lanjut melalui skema pendanaan oleh Pemerintah Australia. Tidak sedikit mahasiswa Indonesia yang berangkat kesini melalui skema beasiswa ini. Kawan-kawan dapat mengakses link ini ntuk menggali lebih jauh persyaratannya http://www.australiaawardsindonesia.org/ .Nah, selain 2 beasiswa major tersebut, hampir semua universitas sebenarnya menawakan beasiswa buat mahasiswa internasional, namun besarannya tidaklah sebesar  beasiswa LPDP ataupun Australian Awards yang mencakupi seluruh aspek pendidikan dan biaya hidup. Biasanya, besaran beasiswa yang disediakan kampus hanya berkisar pada potongan dana kuliah bahkan tidak jarang digratiskan untuk beberapa persyaratan tertentu. Untuk keterangan lebih lanjut dapat dicari melalui situs masing-masing setiap univesitas *ini air jahe panas banget!*

Pertimbangan aspek akademik dan aspek finansial rasanya masih belom cukup jika tidak memperhatikan aspek sosial. Nah, tidak diragukan lagi, Australia sebagai salah satu negara tetangga Indonesia memiliki kedekatan sosio-kultual satu sama lain. Di beberapa kota besar seperti Sydney ataupun Melbourne, atau bahkan kota-kota lainnya, menemukan komunitas warga Indonesia rasanya tidak begitu sulit. Kita masih dapat berhimpun dan bercengkrama bersama sesama warga Indonesia, baik sesama pelajar ataupun warga Indonesia yang menetap dan bekarja disini. Barangkali atas dasar ini, banyak kita temukan makanan khas Indonesia yang dijual di pasar-pasar atau toko Asia, mulai dari mi instan, cemilan, minuman, hingga ikan asin khas Indonesia semua tersedia disini! Hal ini tidak dipungkiri menjadi salah satu faktor terpenting dalam menunjang pendidikan kita dimana kepuasan lidah sebagai orang Indonesia terpenuhi. Paling tidak, gejala home sick dapat setidaknya teratasi, walaupun melaui makanan.

Menimbang dari aspek akademik, finansial dan sosial, agaknya studi di Australia dapat dijadikan salah satu opsi bagi rekan-rekan yang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Pertimbangan secara matang mengenai aspek-aspek tersebut setidaknya akan menjadi poin penting teman-teman untuk dapat memetakan strategi dalam mengambil keputusan berkaitan dengan kampus mana yang cocok dengan diri kawan-kawan. Untuk menyimpul tulisan singkat ini, mungkin dapat kita asumsikan bahwa studi di Australia adalah salah  satu opsi yang tepat bagi teman-teman mahasiswa Indonesia untuk belajar karena didukung oleh aspek akademik, sumber pendanaan dan juga sosial masyarakat yang memadai. Namun, satu hal yang dapat membuat kuliah di Australia menjadi kurang tepat; belajar sambil mencari jodoh. Karena biar bagaimanapun, lelaki dan wanita di Indonesia tetap jauh lebih anggun dan menawan. *Wedang jahe akhirnya dingin, banget* (*)

Share now
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Related articles
Beberapa dari kita mungkin pernah mendengar istilah “thinking out of the box” dimana kita
Kesalahan orang-orang pandai adalah menganggap orang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap

6 Responses

  1. It s great makasih mas sudah mengulas cerita inspiratif tentang beasiswa dan di australianya. 😊

Leave a Reply

Your email address will not be published.